Gereja Masehi advent Hari Ketujuh

Rabu, 20 Maret 2013

"SABAT, HARI PERAYAAN PENCIPTAAN"

PELAJARAN SEKOLAH SABAT DEWASA PEKAN INI: "SABAT, HARI PERAYAAN PENCIPTAAN"

oleh Loddy Lintong (Catatan) pada 16 Maret 2013 pukul 3:56

(ILUSTRASI: Yesus dan murid-murid di ladang gandum)

PELAJARAN KE-XI; 16 MARET 2013
"SABAT: KARUNIA DARI EDEN"


Sabat Petang, 9 Maret
PENDAHULUAN

Penciptaan diperingati. Sebagaimana telah kita pelajari terdahulu, dan yang ditekankan berulang-ulang, pemeliharaan Sabat hari ketujuh bukanlah sebuah perintah yang dikhususkan untuk orang Yahudi saja. Memang, perintah tentang perhentian dan pengudusan Sabat hari ketujuh juga termasuk dalam hukum upacara agama yang bersifat eksklusif diturunkan Allah kepada orang Israel melalui nabi Musa di bukit Sinai. Tetapi itu lebih sebagai penegasan kembali atas pentingnya pemeliharaan Sabat hari ketujuh dalam pekan, dan tidak berarti bahwa perintah itu hanya untuk mereka saja.

Selain dalam hukum upacara keagamaan yang khas itu, hukum Sabat juga termasuk di dalam Sepuluh Perintah Allah yang bersifat universil, untuk semua orang, oleh sebab "hari Sabat diadakan untuk manusia..." (Mrk. 2:27). Allah berhenti, memberkati, dan menguduskan hari Sabat, yaitu hari ketujuh dalam minggu penciptaan, karena Ia telah menyelesaikan pekerjaan penciptaan itu (Kej. 2:2-3). Dengan demikian, hari Sabat adalah sebagai hari peringatan penciptaan.

"Kejadian 2 menyanggah anggapan umum bahwa hari ketujuh adalah 'Sabat orang Yahudi.' Mengapa? Karena Allah 'memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya' sejak di Eden, sebelum Kejatuhan dan tentu saja sebelum ada orang Yahudi. Tambahan lagi, hari Sabat adalah sebuah peringatan bagi penciptaan seluruh umat manusia (bukan hanya orang Yahudi), dan dengan demikian semua umat manusia seharusnya menikmati berkat-berkat hari Sabat" [alinea kedua dan ketiga].

Pena inspirasi menulis: "Sabat tidak dimaksudkan untuk menjadi waktu kemalasan yang sia-sia. Hukum melarang pekerjaan duniawi pada hari perhentian Tuhan; kerja keras untuk mencari nafkah harus berhenti; tidak ada pekerjaan untuk kesenangan duniawi ataupun keuntungan dibenarkan pada hari itu; tetapi sebagaimana Allah berhenti dari pekerjaan penciptaan-Nya, dan berhenti pada hari Sabat dan memberkatinya, demikian juga manusia harus meninggalkan pekerjaannya sehari-hari lalu mengkhususkan jam-jam yang kudus itu untuk istirahat yang sehat, untuk beribadah, dan untuk perbuatan-perbuatan yang suci" (Ellen G. White, The Desire of Ages, hlm. 207).

Minggu, 10 Maret
"PRASASTI PENCIPTAAN" (Penciptaan dan Sabat Hari Ketujuh)

Kekudusannya tetap. Sabat hari ketujuh, bersama-sama dengan Pernikahan, disahkan Allah di Taman Eden dan menjadi bagian tak terpisahkan dari penciptaan itu sendiri. Jadi, Sabat hari ketujuh dan Perkawinan adalah dua lembaga yang sama tuanya dengan umur bumi ini. Kelembagaan Hari Sabat dan Perkawinan juga dikukuhkan Allah sebelum kesucian Taman Eden dicemari oleh dosa, jadi keduanya adalah produk dari suatu masa kekudusan. Bumi dan segala isinya termasuk manusia juga produk dari masa kekudusan, tetapi bedanya manusia beserta bumi dan isinya yang lain sudah terkena kutukan Allah (Kej. 3:17-19), sedangkan Hari Sabat dan Perkawinan tidak termasuk dalam kutukan itu. Selama dunia ini ada dan selama ada kehidupan di bumi ini, Sabat dan Perkawinan tetap menjadi anugerah ilahi yang suci dan mendatangkan berkat surgawi bagi manusia yang menghormatinya.

Pena inspirasi menulis: "Hari Sabat dan keluarga sama-sama dilembagakan di Eden, dan sesuai maksud Allah keduanya terpaut bersama tanpa dapat dipisahkan. Dibandingkan dengan hari yang lain, pada hari ini lebih mungkin bagi kita untuk mengamalkan kehidupan di Eden...Hari perhentian Allah yang suci sudah diadakan untuk manusia, dan perbuatan kemurahan hati sangat sesuai dengan maksudnya. Membantu orang yang menderita dan menghibur yang berduka adalah pekerjaan kasih yang menghormati hari kudus Allah" (Ellen G. White, The Faith I Live By, hlm. 36).

"Prasasti penciptaan." Penuturan di awal kitab Kejadian pasal 2 secara tegas mengaitkan Sabat hari ketujuh dengan penciptaan. Versi Bahasa Indonesia Masa Kini menerjemahkan dua ayat pertama itu lebih sesuai dengan naskah aslinya, "Maka selesailah penciptaan seluruh alam semesta. Pada hari yang ketujuh Allah telah menyelesaikan pekerjaan-Nya itu, lalu Ia beristirahat" (ay. 2-3, BIMK; huruf miring ditambahkan). Kata asli (Ibrani) yang diterjemahkan dengan selesai dan menyelesaikan dalam kalimat-kalimat ini adalah כָּלָה, kalah, sebuah kata-kerja yang juga berarti disempurnakan"Dalam ayat-ayat ini kita tidak dibiarkan dalam keragu-raguan tentang hari atau mengacu kepada apa itu sebenarnya, dan bahwa enam hari Penciptaan itulah yang mendahului hari yang ketujuh" [alinea kedua: kalimat terakhir].

Dengan kata lain, karena segala sesuatu yang hendak diciptakan itu sudah diselesaikan, maka pada hari yang ketujuh Allah meresmikan penciptaan-Nya dengan satu hari perhentian. Jadi, hari Sabat adalah ibarat sebuah "prasasti" yang menandakan bahwa pekerjaan penciptaan sudah resmi terselesaikan. Sabat hari ketujuh dalam pekan adalah bagian yang integral dan tak terpisahkan dari minggu penciptaan, oleh sebab Penciptaan diakhiri dan disempurnakan dengan hari Sabat. Perhentian pada hari Sabat setiap minggu akan selalu mengacu kepada pekerjaan penciptaan Allah tersebut, sebagai hari peringatan penciptaan. Dengan kita berhenti dan menguduskan hari Sabat menjadi tanda akan pengakuan kita bahwa Allah adalah Pencipta alam semesta ini.

Tempat perhentian. Kekerasan hati dan ketidakpercayaan yang ditunjukkan oleh bangsa Israel secara berulang-ulang selama pengembaraan mereka di padang belantara, meskipun setiap hari mereka menyaksikan kebaikan pemeliharaan Tuhan, telah membuat kesabaran Allah atas umat pilihan itu habis. Akibatnya, dari sekitar 2 juta orang yang keluar dari Mesir menuju ke Kanaan hanya 2 orang saja yang diizinkan masuk ke tanah perjanjian itu, yakni Yosua dan Kaleb, selebihnya yang masuk ke tanah perjanjian adalah generasi muda di bawah usia 40 tahun, yaitu mereka yang lahir dalam perjalanan pengembaraan itu (Bil. 14:22-24, 29-30; Yeh. 20:38).

Seperti yang disebutkan dalam syair pemazmur, "Sebab itu Aku bersumpah dalam murka-Ku: 'Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku'" (Mzm. 95:11; huruf miring ditambahkan). Kata Ibrani untuk tempat perhentian dalam ayat ini adalah מְנוּחָה, mĕnuwchah (dilafalkan: menukhah), sebuah kata-benda feminin yang juga dapat berarti tenang (Mzm. 23:2) atau menenangkan (2Sam. 14:17). Dalam PL kata ini dipakai untuk merujuk tempat perhentian atau kesentosaan duniawi, termasuk negeri perjanjian Kanaan (Kej. 49:15, Ul. 12:9, Yes. 32:18).

Hari perhentian. Penulis kitab Ibrani mengutip pemazmur ketika menulis, "Sehingga Aku bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku" (Ibr. 4:3; huruf miring ditambahkan). Kata Grika untuk tempat perhentian di sini adalah κατάπαυσις, katapausis, kata-benda feminin yang bisa pula berarti mengistirahatkan atau memberi perhentian. Dalam PB kata ini hanya digunakan sebanyak 9 kali dalam 8 ayat, yaitu sekali dalam Kis. 7:49 sedang selebihnya dalam kitab Ibrani pasal 3 dan 4. Dalam Ibr. 3:11,18 dan 4:3, 5 kata ini secara spesifik berbicara perihal hukuman Allah terhadap generasi tua bangsa Israel (generasi yang meninggalkan negeri perhambaan Mesir) yang tidak memperoleh "tempat perhentian" yang dijanjikan pada nenek moyang mereka, yaitu di tanah perjanjian Kanaan.

Tetapi khusus pada tiga ayat lain dalam Ibrani 4, kata ini merujuk kepada waktu perhentian, yaitu hari perhentian Sabat hari ketujuh: "Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah. Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya. Karena itu baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorang pun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan itu juga" (ay. 9-11; huruf miring ditambahkan). "Ini adalah suatu referensi Perjanjian Baru yang jelas terhadap kisah Penciptaan dalam kitab Kejadian, dan itu memberi bukti tambahan bagi kebenaran historis tentang penciptaan dalam enam hari yang diikuti dengan satu hari perhentian" [alinea ketiga].

Apa yang kita pelajari tentang penciptaan dan Sabat hari ketujuh?
1. Hari Sabat adalah satu dari dua lembaga yang dikukuhkan Allah di Taman Eden ketika belum ada dosa, lainnya adalah Perkawinan. Meskipun kemudian manusia serta bumi dan segala isinya dikutuk Allah akibat dosa, hari Sabat dan Perkawinan tetap suci.
2. Fakta bahwa Allah menyediakan satu hari lagi setelah pekerjaan penciptaan-Nya rampung dalam enam hari, yaitu Sabat hari ketujuh, menunjukkan bahwa hari Sabat menjadi bagian yang tak terpisahkan dari penciptaan. Bahkan, hari Sabat adalah ibarat "prasasti" atau tanda peresmian atas penciptaan.
3. Kepada bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah telah diberikan tanah perjanjian Kanaan sebagai "tempat perhentian" bagi mereka setelah lebih 400 ratus tahun hidup dalam perhambaan di Mesir. Namun, selain tempat, mereka juga membutuhkan "hari perhentian" dari pekerjaan sehari-hari.

Senin, 11 Maret
SABAT SEBAGAI PERINGATAN (Perhentian Sabat yang Kaya Makna)

Peringatan pembebasan. Bagi bangsa Israel, Sabat sebagai hari perhentian bukan saja hari ketujuh dalam pekan, sebab menurut kalender Ibrani (ha'luach ha'ivri) terdapat 64 hari Sabat dalam setahun yang mereka harus hormati dengan cara berhenti dari segala pekerjaan. Di samping Sabat hari ketujuh setiap pekan (52 hari Sabat dalam tahun kalender internasional), orang Yahudi juga memperingati 12 hari Sabat lainnya sebagai hari raya yang harus disucikan (baca Kel. 12:1-6; 14-16; dan Im. 23:1-8). Karena itu bisa terjadi dalam satu minggu yang sama menurut kalender internasional (kalender Gregorian) orang Yahudi memelihara lebih dari satu hari Sabat, yaitu Sabat mingguan dan Sabat tahunan, yang sama-sama ditandai dengan berhenti dari semua rutinitas.

Sabat (Ibrani: שַׁבָּת, Shabbath) artinya "hari perhentian" yaitu berhenti dari pekerjaan sehari-hari. Dalam hukum agama Yahudi, "bekerja" (Ibrani: melakhah; jamak, melakhoth) mengandung makna yang luas. Dalam Mishnah, kitab yang menghimpun tradisi ajaran lisan orang Yahudi yang menjadi dasar kitab Talmud, terdapat tidak kurang dari 39 "jenis pekerjaan" yang dilarang untuk dilakukan pada hari Sabat, termasuk hal-hal yang bersifat ketrampilan tangan seperti menulis (dua kata atau lebih) dan menyalakan api. Menempuh jarak tertentu dengan berjalan kaki juga dilarang karena jika badan mengeluarkan keringat dianggap sama dengan bekerja. Kegiatan-kegiatan ini baru boleh dilakukan sesudah diadakan upacara tradisional tutup Sabat yang disebut havdalah ("perpisahan"), yaitu meninggalkan hari Sabat dan menyambut minggu bekerja pada hari Sabtu petang setelah terlihat tiga bintang di langit yang menandakan siang sudah berlalu dan malam menjelang.

Hukum Sabat tercatat dalam Keluaran 20:8-11 sebagai perintah keempat dari Sepuluh Perintah. Hukum ini kemudian ditekankan lagi oleh Musa dalam Ulangan 5:12-14, dengan tambahan penjelasan: "Sebab haruslah kau ingat, bahwa engkau pun dahulu budak di tanah Mesir dan engkau dibawa keluar dari sana oleh TUHAN, Allahmu dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung; itulah sebabnya TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau merayakan hari Sabat" (ay. 15). Walaupun Sepuluh Perintah sebagai hukum moral berlaku secara universil untuk semua orang, namun bagi bangsa Israel ada "alasan tambahan" untuk mengingatkan mereka apabila nanti sudah berada di tanah perjanjian dan umat yang tadinya budak itu akan diberkati dengan kemakmuran sehingga mereka sendiri akan memiliki budak-budak. Dalam konteks ini, perhentian Sabat hari ketujuh dapat sekaligus menjadi hari pembebasan dari kewajiban untuk bekerja bagi para budak mereka itu.

"Di sini Musa mengingatkan bangsa Israel bahwa mereka harus memelihara Sabat, dan dia menyatakan bahwa mereka harus melakukan ini karena Allah telah melepaskan mereka dari Mesir. Ayat-ayat ini tidak mengatakan apa-apa tentang enam hari Penciptaan atau perihal Sabat sebagai perhentian Allah. Gantinya, penekanannya di sini adalah pada Keselamatan, pada pembebasan, pada Penebusan, dan dalam hal ini penebusan dari Mesir, sebuah simbol Penebusan sejati yang kita miliki dalam Yesus (baca 1Kor. 10:1-3)" [alinea pertama].

Peringatan pengudusan. Dua kali, melalui dua nabi berbeda dan dalam waktu yang berbeda, pesan yang sama tentang maksud pemeliharaan Sabat sebagai peringatan atas pengudusan yang dilakukan Allah atas umat-Nya itu disampaikan. Kepada Musa, pesan-Nya, "Katakanlah kepada orang Israel, demikian: Akan tetapi hari-hari Sabat-Ku harus kamu pelihara, sebab itulah peringatan antara Aku dan kamu, turun-temurun, sehingga kamu mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, yang menguduskan kamu" (Kel. 31:13; huruf miring ditambahkan). Kepada Yehezkiel, firman-Nya: "Hari-hari Sabat-Ku juga Kuberikan kepada mereka menjadi peringatan di antara Aku dan mereka, supaya mereka mengetahui bahwa Akulah TUHAN, yang menguduskan mereka" (Yeh. 20:12; huruf miring ditambahkan). Jadi, selain untuk mengingat pembebasan yang Allah berikan kepada umat-Nya, hari Sabat juga dimaksudkan untuk mengingat pengudusan yang Allah lakukan atas umat-Nya.

Sementara pemeliharaan Sabat hari ketujuh adalah untuk merayakan penciptaan yang Allah lakukan, pemeliharaan hari Sabat juga sebagai pengingat akan tiga perkara yang Allah lakukan terhadap umat-Nya melalui Yesus Kristus: penebusan, penyelamatan, dan pengudusan. Intinya, perintah agar memelihara hari Sabat adalah untuk peringatan, yaitu mengingat semua perbuatan Allah bagi manusia. "Kita memelihara Sabat hari yang ketujuh sebagai pengakuan atas fakta bahwa Allah menciptakan dalam enam hari dan berhenti pada hari ketujuh. Kita juga memelihara Sabat hari ketujuh karena Allah adalah yang menebus kita, menyelamatkan kita di dalam Kristus. Dan juga Dia itulah yang menguduskan kita, yang juga hanya datang dari daya cipta Allah (baca Mzm. 51:10; 2Kor. 5:17)" [alinea keempat: tiga kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang berbagai makna hari Sabat?
1. Hukum hari Sabat diadakan sebagai peringatan akan berbagai hal yang Allah telah lakukan bagi manusia. Khusus bagi bangsa Yahudi sebagai umat pilihan, ditambahkan juga hari-hari Sabat lainnya yang bersifat eksklusif untuk diperingati hanya oleh mereka.
2. Sabat hari ketujuh yang bersifat universil memiliki keistimewaan, yaitu sebagai peringatan akan Penciptaan yang telah Allah lakukan. Itulah sebabnya perayaan "Sabat hari ketujuh" ini tercantum sebagai salah satu hukum dalam Sepuluh Perintah Allah bagi seluruh manusia.
3. Semua hukum tentang hari Sabat berfungsi sebagai pengingat bagi kita. Untuk mengingat bahwa Allah yang telah menciptakan alam semesta, dan bahwa Dia saja yang dapat menebus, menyelamatkan, serta menguduskan manusia untuk menjadi umat-Nya.

Selasa, 12 Maret
KRISTUS, TUHAN ATAS HARI SABAT (Yesus dan Hari Sabat)

Insiden ladang gandum. Peristiwa di ladang gandum tampaknya merupakan kejadian tersendiri di hari yang lain, bukan pada hari yang sama ketika Yesus dan murid-murid bekerja menyembuhkan banyak orang di Kapernaum dan di tepi danau serta bertamu ke rumah Lewi, seorang pemungut cukai, sebagaimana yang dituturkan dalam Markus 2:1-22. Episode yang spesifik ini tercatat mulai ayat 23, demikian: "Pada suatu kali, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum" (ay. 23; huruf miring ditambahkan).

Rupanya pada hari Sabat itu sebagian dari orang-orang Farisi sedang berjalan mengikuti rombongan Yesus, tapi bukan untuk mendengarkan khotbah-Nya melainkan untuk memata-matai demi mencari kesalahan Yesus. Benar saja, ketika melewati sebuah ladang gandum murid-murid-Nya berjalan sembari tangan mereka meraih bulir-bulir gandum untuk dimakan. Yesus sendiri tidak berbuat demikian, namun itu sudah cukup bagi orang-orang Farisi untuk menuding Dia. Mereka tidak bisa mempersalahkan murid-murid yang telah memetik gandum dari ladang orang, sebab hukum Musa membolehkan hal itu sejauh tidak menggunakan sabit (Ul. 23:25). Jadi, orang-orang Farisi itu hanya mempersoalkan waktu yang tidak tepat. Kata mereka, "Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?" (ay. 24).

"Tindakan memetik gandum sementara seseorang sedang melewati sebuah ladang bukanlah suatu masalah, karena aturan masyarakat mengizinkan hal ini. Makanan adalah kebutuhan, dan sangat bisa diterima bagi murid-murid itu untuk meringankan rasa lapar mereka dengan memakan apa yang mereka temukan sambil berjalan. Masalahnya adalah bahwa para pemimpin agama itu menganggap peraturan perayaan Sabat yang mereka buat sendiri itu lebih penting daripada kebutuhan manusia" [alinea pertama: kalimat kedua hingga keempat].

Untuk apa hari Sabat diadakan. Yesus membela tindakan murid-murid itu oleh menyamakannya dengan tindakan Daud yang mengambil "roti kudus" dari rumah imam Ahimelekh di kota Nob yang sebenarnya adalah roti yang dipajang di bait Tuhan dan pantang dimakan (1Sam. 21:1-6). Raja Daud sangat dihormati oleh segenap bangsa Israel sepanjang zaman, bahkan hingga sekarang ini, dan orang-orang Farisi itu tidak berani mengambil risiko untuk mempersoalkan perbuatan Daud tersebut. Yesus menggunakan kesempatan itu untuk membuat sebuah pernyataan yang sangat penting dan mendasar perihal hari Sabat, ketika Dia berkata: "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat" (Mrk. 2:27-28).

Peristiwa di ladang gandum ini mengandung sebuah pelajaran penting bagi kita dewasa ini. Disadari atau tidak, banyak di antara kita yang memiliki roh Farisi, mengikut Yesus bukan dengan niat yang benar tetapi hanya untuk mencari-cari kesalahan murid-murid Yesus yang lain. Tidak sedikit yang menjadikan hukum Sabat sebagai jerat untuk menuding orang lain yang tidak memeliharanya dengan sempurna menurut standar mereka sendiri. Memang, kelemahan manusia tidak boleh dijadikan maaf untuk tidak menguduskan hari Sabat secara benar sesuai perintah Tuhan, tetapi anda dan saya tidak mendapat mandat untuk menghakimi orang lain yang masih bergumul dalam hal pengudusan hari Sabat. Jika Kristus sendiri yang adalah Tuhan atas hari Sabat tidak merasa terusik oleh perbuatan murid-murid itu, mengapa orang-orang lain harus merasa tersinggung?

"Teladan Yesus tidak saja menunjukkan bahwa hari Sabat tetap sebagai sesuatu yang harus ditaati, tapi juga memperlihatkan kepada kita bahwa hari Sabat harus dipelihara. Dan satu hal yang dapat kita lihat dengan jelas dari keteladanan-Nya ialah bahwa pekerjaan yang dilakukan pada hari Sabat untuk membantu meringankan penderitaan manusia tidaklah melanggar hari Sabat. Sebaliknya, keteladanan-Nya menunjukkan bahwa berbuat baik bagi orang lain adalah cara yang tepat dalam hal bagaimana hari Sabat itu harus dipelihara" [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang Yesus dan hari Sabat?
1. Hari Sabat diadakan untuk kepentingan manusia, maka segala hal yang berujung pada pemenuhan kebutuhan dasar manusia dapat dilakukan pada hari Sabat. Apa yang tidak dapat dilakukan pada hari Sabat ialah perbuatan-perbuatan yang bermuara pada kepentingan pribadi dan pemanjaan diri sendiri.
2. Pemeliharaan hari Sabat dapat menjadi kontroversi karena dua pandangan yang berlawanan: pemeliharaan Sabat yang terlalu ekstrem atau, sebaliknya, tidak percaya soal hari Sabat. Dalam pengalaman Yesus hal pertama yang dihadapi, dalam pengalaman kita mungkin kedua-duanya (di luar ditentang, di dalam dikritik).
3. Semangat Yesus sedikit pun tidak menjadi kendur oleh kritikan-kritikan atas apa yang Dia lakukan pada hari Sabat demi kebaikan manusia. Anda dan saya dapat meniru keteladanan-Nya itu di tempat kita masing-masing, sesuai dengan kemampuan dan kesempatan yang ada.

Rabu, 13 Maret
HARI SABAT SEBAGAI PENENTU (Sabat dan Hari-hari Terakhir)

Mereka yang tidak percaya. Para pengejek ada di mana-mana, dari zaman dulu. Anda tahu mengapa orang-orang jadi pengejek? Karena ketidakmengertian--ada pihak yang menolak untuk mengerti apa yang dipahami oleh pihak lain, sekali pun itu adalah kebenaran. Menurut rasul Petrus, para pengejek pada akhir zaman adalah orang-orang yang tidak menghargai agama atau "yang hidup menurut hawa nafsunya" (2Ptr. 3:3), mereka yang tidak percaya pada kedatangan Yesus kedua kali (ay. 4) maupun perihal penciptaan (ay. 5) dan adanya neraka (ay. 7). Mereka mengira bahwa "segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan" (ay. 4, bag. akhir). "Namun perhatikan bagaimana Petrus menghubungkan penolakan mereka akan kedatangan Kristus kedua kali dengan penolakan mereka akan kisah Penciptaan (ditambah juga dengan Air Bah). Penolakan terhadap yang satu menuntun kepada penolakan terhadap yang lainnya!" [alinea kedua].

Orang-orang ateis menuduh agama sebagai "opium" (obat bius) yang membius manusia sehingga tidak terlalu memikirkan kehidupan yang sekarang, bahkan sebagian dari mereka menuding agama adalah "pembodohan" terhadap manusia. Memang banyak dari antara mereka itu adalah orang-orang cerdas, pemikir-pemikir terkenal, dan figur publik. Tetapi ada seorang Kristen yang menjawab cercaan itu dengan sangat bijak, katanya: "Lebih baik sekarang ini saya hidup seakan-akan Allah itu ada kemudian saya mati dan mendapati Allah itu tidak ada, daripada sekarang ini saya hidup seolah-olah tidak ada Allah kemudian saya mati dan mendapati Allah itu ada!"

Malaikat pertama yang disaksikan Yohanes Pewahyu terbang di tengah langit sambil membawa injil itu berseru, "Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena telah tiba saat penghakiman-Nya, dan sembahlah Dia yang telah menjadikan langit dan bumi dan laut dan semua mata air" (Why. 14:7). Alasan untuk takut dan memuliakan Allah adalah karena penghakiman yang disertai dengan pehukuman itu sudah tiba, dan alasan untuk menyembah Allah oleh karena Dia adalah Sang Pencipta langit dan bumi. Kaum ateis boleh saja tidak percaya bahwa ada Allah yang menghakimi manusia, tetapi anda percaya atau tidak percaya penghakiman Allah itu pasti terjadi. "Para pengejek itu salah. Penghakiman akan datang, dan kita dipanggil untuk menyembah Dia yang 'menciptakan langit dan bumi dan laut' serta segala sesuatu yang lain" [alinea ketiga: dua kalimat pertama].

Mereka yang menyembah. Pada akhirnya semua manusia yang hidup di hari-hari terakhir dunia ini akan terbagi ke dalam dua kelompok: mereka yang menyembah Allah Pencipta dan mereka yang menyembah "binatang dan patungnya" itu (Why. 14:9). Sementara orang-orang yang menyembah Allah Pencipta terus memelihara Sabat hari ketujuh meskipun menghadapi penganiayaan itu akan "ditebus dari antara manusia sebagai korban-korban sulung bagi Allah dan bagi Anak Domba itu" untuk diselamatkan (ay. 4), orang-orang yang menyembah binatang dan patungnya dengan cara menerima tanda di dahi atau tangan itu "akan minum dari anggur murka Allah, yang disediakan tanpa campuran dalam cawan murka-Nya; dan ia akan disiksa dengan api dan belerang di depan mata malaikat-malaikat kudus dan di depan mata Anak Domba" (ay. 10).

Pena inspirasi menulis: "Pemeliharaan Sabat hari ketujuh akan menjadi ujian terbesar pada hari-hari terakhir. Itu akan menjadi garis demarkasi antara orang yang melayani Allah dengan orang yang tidak melayani Dia. Oleh memelihara kesucian hari ini kita mengakui di hadapan alam semesta bahwa kita menyembah Dia yang oleh kuasa-Nya telah menciptakan dunia ini" (Ellen G. White, Manuscript Releases, jld. 12, hlm. 214).

"Allah memanggil umat manusia untuk menyembah Dia sebagai Pencipta, dan kita tidak akan menemukan dalam Alkitab sesuatu yang sepenuhnya menunjuk kepada-Nya sebagai Pencipta seperti halnya Sabat hari ketujuh. Maka tidaklah heran bahwa kita melihat hari Sabat adalah tanda asli dari Allah sebagai Pencipta yang menjadi sangat penting di hari-hari terakhir" [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang peran hari Sabat di hari-hari terakhir?
1. Pada hari-hari terakhir riwayat dunia ini, beberapa waktu sebelum kedatangan Yesus kedua kali, hukum tentang pemeliharaan hari Sabat akan memainkan peran penting. Manusia akan terbagi ke dalam dua kelompok, yaitu mereka yang memelihara Sabat hari ketujuh dan mereka yang tidak.
2. Pemeliharaan hukum Sabat hari ketujuh akan menjadi tanda yang membedakan antara orang-orang yang menyembah Allah Pencipta dengan orang-orang yang menyembah "binatang dan patungnya" (Setan dan kepausan), dengan segala risikonya.
3. Seruan tiga malaikat dalam Wahyu 14 ditujukan kepada setiap orang yang hidup di zaman akhir, khususnya kepada mereka yang tidak percaya adanya Allah Pencipta maupun mereka yang sedang menyembah kuasa selain dari Allah Pencipta.

Kamis, 14 Maret
MEMUJI PEKERJAAN ALLAH (Sebuah Mazmur untuk Hari Sabat)

Mazmur 92. Sebagian komentator Alkitab mengomentari judul Mazmur 92 yang berbunyi "Mazmur. Nyanyian untuk hari Sabat" (ay. 1) sebagai sesuatu yang "tidak lazim" (Nelson's Compact Bible Commentary, hlm. 400). Siapa penggubah mazmur ini juga masih diperdebatkan oleh para komentator, sebagian menganggap penulisnya adalah Musa dan yang lain Daud. Bahkan para penulis Yahudi menyebut penggubah mazmur ini adalah Adam, "sebuah nyanyian atau pujian yang diucapkan oleh manusia pertama untuk hari Sabat" sebagaimana terdapat dalam Targum (uraian atau tafsiran Kitabsuci Ibrani dalam bahasa Aram purba). Tetapi John Gill (1697-1771), pakar Alkitab dan teolog Inggris, dan juga beberapa penyelidik Alkitab lainnya, menyanggah pendapat tersebut oleh karena alat-alat musik termasuk "kecapi" (ay. 4) baru dikenal setelah Yubal (Kej. 4:21), dan pada waktu Adam baru diciptakan belum ada manusia lain sebagai "orang-orang fasik" (ay. 8).

Banyak komentator yakin bahwa Mazmur 92 adalah gubahan Daud, "pemazmur yang disenangi di Israel" (2Sam. 23:1), tapi yang pasti mazmur ini lazim dinyanyikan oleh keluarga-keluarga orang Yahudi sebagai lagu penutup pada upacara tradisional menyambut datangnya hari Sabat (kabbalat shabbat). "Pemazmur jelas mengenal Tuhan, tahu seperti apa Tuhan itu, tahu apa yang Tuhan telah lakukan, dan tahu apa yang Tuhan akan lakukan suatu hari nanti. Untuk alasan-alasan inilah maka dia mengekspresikan sukacita seperti yang dilakukannya itu" [alinea pertama].

Penghakiman dinyatakan. Mazmur 92 (versi bahasa Indonesia terdiri atas 16 ayat, tapi versi bahasa Inggris hanya 15 ayat karena ayat 1 dan 2 digabungkan) dapat dibagi ke dalam empat bagian. Bagian pertama (ay. 1-4) berisi seruan untuk memuji Allah, khususnya pada hari Sabat; bagian kedua (ay. 5-7) adalah alasan untuk memuji Dia, yaitu karena pekerjaan penciptaan yang telah dilakukan-Nya, sesuatu yang tidak dapat dipahami oleh orang-orang bodoh; bagian ketiga (ay. 8-10) keyakinan bahwa orang-orang jahat atau orang fasik yang memusuhi Allah akan dikalahkan bahkan dipunahkan, tetapi Allah akan tetap abadi di tempat-Nya yang tinggi; bagian keempat (ay. 11-16) Allah akan meninggikan orang-orang benar di hadapan musuh-musuh mereka, dan akan terus bertumbuh subur serta berbuah lebat sampai tua untuk memberitakan keadilan Tuhan.

Perihal orang-orang jahat, yaitu mereka yang memusuhi Allah dan memusuhi orang-orang benar, ke atas mereka akan berlaku penghakiman Allah. Dalam versi Bahasa Indonesia Masa Kini disebutkan, "Boleh jadi orang durhaka tumbuh subur seperti rumput, dan orang jahat bertambah kaya dan makmur; namun mereka akan dibinasakan sama sekali, sebab Engkau, TUHAN, berkuasa selama-lamanya" (ay. 8-9, BIMK). "Dan juga, perhatikan tema penghakiman di sini. Dalam Alkitab, penghakiman Allah bukan hanya terhadap orang jahat tetapi juga demi kepentingan orang-orang benar (baca Dan. 7:20-28). Kedua aspek penghakiman ini juga diungkapkan dalam mazmur ini" [alinea keempat: tiga kalimat pertama].

Memanfaatkan hari Sabat. Tujuan dari diadakannya hari Sabat adalah demi kebaikan manusia, hal ini sudah berulang-ulang ditegaskan dalam Alkitab. Allah tidak pernah dan tidak butuh istirahat, oleh sebab itu Dia tidak memerlukan hari Sabat seperti manusia membutuhkannya. Justeru hari Sabat diadakan untuk menjadi media khusus melalui mana Allah mencurahkan berkat istimewa bagi manusia, dan sebagai sambutan kita atas berkat istimewa itu kita memanfaatkan pemberian hari Sabat untuk merenungkan kebesaran dan kebaikan Sang Pencipta.

Pena inspirasi menulis: "Hari Sabat sudah diadakan untuk manusia untuk menjadi suatu berkat baginya oleh membebaskan pikirannya dari pekerjaan duniawi untuk merenungkan kebaikan dan kemuliaan Allah. Umat Allah perlu berhimpun untuk membicarakan tentang Dia, untuk bertukar pikiran dan gagasan tentang kebenaran-kebenaran yang terkandung dalam firman-Nya, dan menyediakan sebagian waktu untuk melayangkan doa yang patut" (Ellen G. White, Testimonies for the Church, jld. 2, hlm. 583).

Apa yang kita pelajari tentang Mazmur 92 yang digubah khusus untuk hari Sabat?
1. Mazmur ini (syair untuk kidung pujian, nomor 92 dalam susunan Alkitab kita) adalah salah satu dari beberapa mazmur yang telah digubah khusus untuk hari Sabat. Penggubahnya mempersembahkan syair kidung ini untuk memuji Sang Pencipta yang telah mengadakan hari Sabat demi kepentingan manusia.
2. Selain pujian, dalam mazmur ini juga disebutkan tentang penghakiman Allah atas orang-orang jahat dan sekaligus pahala bagi orang-orang benar (saleh) pada akhir riwayat bumi yang berdosa ini.
3. Hari Sabat adalah hari untuk bersyukur dan bersukacita, apapun dan bagaimanapun situasi yang sedang kita hadapi. Hari Sabat adalah hari berkat, dan berhenti dari segala beban kesibukan sehari-hari adalah suatu nikmat dari Allah. Itulah sebabnya pada hari ini kita patut memuja nama-Nya.

Jumat, 15 Maret
PENUTUP

Bukan akibat "kecelakaan." Dr. James Michaelson, seorang psikolog Kristen, kedatangan seorang pasien wanita di ruang praktiknya. Wanita muda yang hendak berkonsultasi ini sedang dibalut oleh rasa kesepian dan terbuang. Sementara wanita itu mengutarakan isi hati dan persoalan hidupnya, pikiran Dr. Michaelson justeru sedang teringat pada sebuah ayat yang berbunyi, "Ketahuilah, bahwa TUHANlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita" (Mzm. 100:3). Ketika pasiennya selesai berbicara, sang psikolog diliputi oleh keraguan tentang nasihat apa yang harus diberikannya. "Saya pikir Tuhan ingin anda mengetahui sesuatu," katanya selang beberapa saat. Lalu Dr. Michaelson membacakan ayat itu, "Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah. Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita." Dokter berhenti sejenak, lalu bertanya, "Apakah kata-kata itu berarti bagi anda?"

Tiba-tiba tangis wanita itu meledak, dan dia terus terisak selama beberapa saat. Sejurus kemudian, setelah berhasil menguasai diri, dia lalu berkisah perihal dirinya. "Saya tadi belum cerita kalau ibu saya sudah hamil sebelum menikah. Selama ini saya yakin bahwa keberadaan saya adalah suatu kesalahan, sebuah kecelakaan yang tidak direncanakan, dan bahwa bukan Tuhan yang menjadikan saya. Tetapi waktu dokter menyebutkan ayat itu, saya terus membayangkan bagaimana Tuhan membentuk diri saya dalam kandungan ibu saya." Setelah terdiam sejenak, gadis itu berkata, "Sekarang saya tahu kalau Tuhan yang menciptakan saya, dan bahwa keberadaan saya di dunia ini bukan karena kesalahan. Terimakasih, dokter. Saya tidak akan pernah lupakan pengalaman saya hari ini." (Sumber: http://bible.org/seriespage/crown-and-climax-creation-genesis-126-23).

"Dia yang menetapkan dunia-dunia gemerlapan di tempat yang tinggi dan dengan keahlian yang tajam mewarnai bunga-bunga di padang, yang memenuhi bumi dan langit dengan keajaiban kuasa-Nya, bilamana Ia hendak memahkotai pekerjaan-Nya dengan menempatkan seseorang untuk bertindak sebagai penguasa bumi yang elok ini, tidak lupa untuk menciptakan satu makhluk yang sepadan dengan tangan yang telah memberikan kehidupan kepadanya" [kalimat keenam].

"Engkau menciptakan setiap bagian badanku, dan membentuk aku dalam rahim ibuku. Aku memuji Engkau sebab aku sangat luar biasa! Segala perbuatan-Mu ajaib dan mengagumkan, aku benar-benar menyadarinya. Waktu tulang-tulangku dijadikan, dengan cermat dirangkaikan dalam rahim ibuku, sedang aku tumbuh di sana secara rahasia, aku tidak tersembunyi bagi-Mu. Engkau melihat aku waktu aku masih dalam kandungan; semuanya tercatat di dalam buku-Mu; hari-harinya sudah ditentukan sebelum satu pun mulai" (Mzm. 139:13-16, BIMK).


(Oleh Loddy Lintong/California, 14 Maret 2013; unggahan kedua, 15 Maret 2013)

Rabu, 13 Maret 2013

HARI YANG ANEH

Hari ini adalah hari Rabu 13 Maret 2013 kami kelas humas kependetaan bersama-sama melakukan pembuatan blog, kami menggunakan fasilitas di library Univesitas Klabat dituntun oleh dosen pemina kami. Pdt. D. SepangKami yang sudah membuat blog sebelumnya dimaintakan untuk memjadi tutor bagi teman-teman yang baru membuatnya. Walau dunia sekarang sudah dipenuhi dengan teknologi internet masih ada juga orang  yang belum bisa menguasainya dengan baik.
Untuk itu pada hari ini saya rasakan sebagai hari yang paling aneh
ckckckckck hhehehehehe

Jumat, 08 Maret 2013

"MERAWAT CIPTAAN ALLAH"

PELAJARAN SEKOLAH SABAT DEWASA PEKAN INI: "MERAWAT CIPTAAN ALLAH"

oleh Loddy Lintong pada 7 Maret 2013 pukul 15:38 ·


PELAJARAN KE-X; 9 Maret 2013
"PENATALAYANAN DAN LINGKUNGAN"


Sabat Petang, 2 Maret
PENDAHULUAN

Dasar pemahaman. Pekan ini kita membahas kewenangan dan kewajiban manusia terhadap bumi yang merupakan lingkungan hidup kita, sebagaimana yang dimaksudkan Allah kepada Adam pada awal penciptaan. Tetapi sebelum kita beranjak lebih jauh, baiklah kita kenali dulu makna dua istilah yang menjadi tema pembahasan pelajaran pekan ini, yaitu penatalayanan dan lingkungan.

Penatalayanan. Ini merupakan sebuah kata bentukan yang terdiri atas dua kata yang disandingkan, penataan dan pelayanan. Kata penatalayanan adalah padanan untuk kata stewardship dalam bahasa Inggris, yang definisinya--menurut Dictionary.com yang mengutip kamus terbitan Random House--adalah: (1) jabatan dan tugas-tugas pelayan atau pengurus, seorang yang bertugas mewakili orang lain, khususnya dalam mengelola harta benda, keuangan, kekayaan, dsb; (2) tanggungjawab untuk mengawasi dan melindungi sesuatu yang dianggap berharga untuk dirawat dan dipelihara. Sedangkan Wikipedia menerangkan bahwa "penatalayanan" merupakan suatu keyakinan teologis bahwa manusia bertanggungjawab atas dunia ini, yang bagi umat Kristen landasan alkitabiahnya terdapat dalam Kej. 2:15, Im. 25:1-5, dan khususnya perumpamaan Tuhan Yesus dalam Mat. 25:14-30.

Lingkungan. Ini adalah padanan untuk kata environment (Inggris). Menurut definisi dari situs KamusBahasaIndonesia.org, kata ini berarti daerah atau kawasan yang berada di dalamnya; bagian wilayah; golongan; dan semua yang mempengaruhi pertumbuhan manusia dan hewan. Lingkungan terbagi ke dalam lima bagian, yakni lingkungan alam, lingkungan hidup, lingkungan kebudayaan, lingkungan mati, dan lingkungan sosial. Wikipedia Indonesia menerangkan bahwa "Lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya alam seperti tanah, air, energi surya, mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan, dengan kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti keputusan bagaimana menggunakan lingkungan fisik tersebut." Lingkungan terbagi ke dalam komponen "abiotik" (tidak bernyawa: tanah, udara, iklim, dsb) dan "biotik" (bernyawa: tumbuhan, hewan, manusia, dan mikro organisme). Ilmu yang mempelajari tentang lingkungan adalah ekologi.

Pelajaran Sekolah Sabat pekan ini, sebagaimana dimaksud oleh penyusun pelajarannya, ialah untuk membahas tentang hubungan antara manusia--sebagai makhluk ciptaan yang tertinggi dan paling cerdas--dengan Bumi ciptaan Allah beserta lingkungannya, baik komponen biotik maupun abiotik. "Di dalam ciptaan ini Ia menempatkan manusia, yang dengan sengaja dihubungkan dengan Diri-Nya, orang lain, dan dunia sekitarnya. Karena itu, sebagai umat Advent, kita menganggap pelestarian dan pemeliharaannya berkaitan erat dengan pelayanan kita kepada-Nya..."[alinea kedua: dua kalimat terakhir].

Dalam perkataan lain, Gereja Advent menyadari bahwa sebagai umat Tuhan kita mengemban tanggungjawab untuk memelihara dan merawat lingkungan hidup di mana kita tinggal, percaya bahwa kita ditempatkan di dunia ini untuk menjadi penatalayan-penatalayan atas ciptaan Tuhan--yaitu orang-orang yang melaksanakan tugas perawatan dan pemeliharaan alam ini demi Sang Pencipta.

Pena inspirasi menulis: "Bahwa apa yang menjadi dasar dari integritas bisnis dan kesuksesan sejati adalah pengakuan akan kepemilikan Allah. Sang Pencipta dari segala sesuatu, Dialah pemilik yang asli. Kita adalah para penatalayan-Nya. Apa yang kita miliki adalah sebuah kepercayaan dari Dia untuk digunakan sesuai petunjuk-Nya. Ini merupakan kewajiban yang terletak atas setiap manusia. Hal ini menyangkut seluruh lingkup aktivitas manusia. Apakah kita mengakuinya atau tidak, kita adalah penatalayan-penatalayan yang memperoleh talenta dan fasilitas dari Allah serta ditempatkan di dunia untuk melaksanakan suatu pekerjaan yang ditentukan oleh Dia" (Ellen G. White, The Adventist Home, hlm. 367).

Minggu, 3 Maret
MANDAT DARI SANG PENCIPTA (Kekuasaan yang Diberikan pada Penciptaan)

Keunggulan dan kekuasaan. Alkitab mengajarkan bahwa manusia bukan saja makhluk ciptaan yang paling mulia di Bumi ini, tapi juga paling cerdas dan paling berkuasa. Tentu saja keunggulan-keunggulan itu dikaruniakan bukan tanpa sesuatu maksud, tetapi semua itu diberikan kepada manusia berkenaan dengan tugas dan fungsi kita sebagai pelaksana dalam hal perawatan dan pemeliharaan ciptaan Allah di planet ini.

Setelah menciptakan Bumi dan isinya, pada hari yang keenam Allah kemudian berfirman: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi" (Kej. 1:26; huruf miring ditambahkan). Perhatikan, Allah telah berencana untuk memberikan kepada manusia kekuasaan atas alam ciptaan-Nya ini sebelum Adam diciptakan, itulah sebabnya Dia menciptakan manusia itu menurut gambar dan rupa-Nya sendiri. Dengan kata lain, penciptaan manusia didesain menurut citra Allah dan dilengkapi dengan keunggulan-keunggulan melebihi seluruh ciptaan lainnya, oleh karena manusia hendak diberi kuasa atas semua ciptaan lain di planet ini!

"Menurut Kejadian 1:26, kekuasaan Adam meluas sampai ke semua ciptaan lainnya yang ada--di laut, di darat, dan di udara. Kekuasaan mencakup maksud memerintah atau memiliki kuasa atas makhluk-makhluk ini. Tidak dikatakan tentang kekuasaan atas kekuatan alam itu sendiri tetapi hanya atas makhluk ciptaan. Dan, menurut ayat itu lagi, kuasa memerintah ini bersifat sejagat. Intinya, Adam harus menjadi penguasa bumi" [alinea pertama].

Dalam ketakjubannya pemazmur menulis, "Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kau letakkan di bawah kakinya" (Mzm. 8:4-7; huruf miring ditambahkan). Adam mulai menjalankan kekuasaannya itu ketika dia memberi nama kepada makhluk-makhluk hidup lainnya (Kej. 2:19). "Wewenang memberi nama pada burung-burung dan binatang-binatang merupakan penegasan akan status Adam sebagai penguasa atas hewan-hewan" [alinea kedua: kalimat terakhir].

Prinsip penatalayanan. Segera setelah Adam diciptakan, Allah menempatkannya di rumah alamiah yang asri, Taman Eden. "TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu" (Kej. 2:15; huruf miring ditambahkan). Kata Ibrani yang diterjemahkan dengan mengusahakan dalam ayat ini adalah עָבַד,`abad (dilafalkan: ävad), yang berarti bekerja atau melayani; sedangkan kata asli untuk memelihara adalah שָׁמַר, shamar (dilafalkan: syämar), yang artinya mengawasi atau melindungi. Sebelum Adam mempraktikkan wewenangnya dengan memberi nama kepada binatang-binatang itu, dia lebih dulu menerima tanggungjawabnya sebagai pemelihara dan pelindung alam ini.

Kewajibannya atas alam tersebut menempatkan Adam selaku "penatalayan" Allah (=pelaksana tugas untuk dan atas nama Allah), dan dengan demikian kewajiban tersebut mengandung prinsip penatalayanan. "Taman itu merupakan hadiah kepada Adam, sebuah ungkapan kasih Allah, dan sekarang Adam telah diberi tanggungjawab atasnya, sebuah contoh lain dari kekuasaan yang Adam terima pada saat Penciptaan" [alinea terakhir: kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang kekuasaan yang Allah berikan kepada Adam?
1. Adam telah diciptakan menurut citra Allah, disertai dengan keunggulan-keunggulan, oleh sebab manusia itu akan memangku kekuasaan atas bumi ini dan semua ciptaan lainnya. 
2. Kekuasaan yang Allah berikan kepada manusia itu agar dia dapat melaksanakan pekerjaan serta tugas-tugas atas alam ini, untuk dan atas nama Sang Pencipta sebagai Pemilik. Dengan demikian maka manusia sesungguhnya adalah "penatalayan-penatalayan" Allah.
3. Dengan menyadari status asli yang diberikan Allah kepada manusia pada saat penciptaan, seyogianya kita manusia akan memiliki pandangan dan sikap yang lebih bertanggungjawab terhadap kelestarian alam ciptaan Allah ini.

Senin, 4 Maret
PERLAKUAN TERHADAP HEWAN (Memelihara Ciptaan Lainnya)

Pernyataan kepemilikan Allah. Di seluruh Alkitab dan dalam berbagai peristiwa Allah mengumandangkan kepemilikan-Nya atas alam semesta, termasuk Bumi dan segala isinya. Ketika bangsa Israel diperintahkan untuk mempersembahkan kurban lembu jantan dan domba jantan secara rutin dan teratur sebagai bagian dari peribadatan, sesungguhnya umat itu tidak membawa hewan-hewan kurban sebagai pemberian mereka kepada Allah. Sebab, sebagaimana dikatakan-Nya, "Tidak usah Aku mengambil lembu dari rumahmu atau kambing jantan dari kandangmu, sebab punya-Kulah segala binatang hutan, dan beribu-ribu hewan di gunung. Aku kenal segala burung di udara, dan apa yang bergerak di padang adalah dalam kuasa-Ku" (Mzm. 50:9-11).

Allah memiliki dunia ini dan segala hewan yang ada di dalamnya oleh karena Dialah yang telah menciptakan semua itu. Sebagai Pencipta alam semesta Allah layak menerima puji-pujian dan penghormatan dari seluruh makhluk ciptaan-Nya, sebagaimana diakui oleh kedua puluh empat tua-tua seperti yang disaksikan Yohanes Pembaptis dalam suatu penglihatan (Why. 4:11). "Penciptaan hewan-hewan bukanlah sebuah kebetulan atau gagasan yang muncul belakangan. Allah sengaja menciptakan mereka. Adalah kehendak-Nya bahwa semuanya itu harus ada, dan prinsip ini harus menuntun perlakuan kita atas mereka" [alinea pertama].

Sekarang, apa hubungannya antara menjadi penyayang binatang dengan vegetarisme? Sebagian orang yang berpandangan ekstrem telah mengaitkan pola makan tanpa daging sebagai bukti nyata dari sikap menyayangi binatang. Bahkan, seorang pendukung vegetarisme dalam forum di situs veggieboards menuding bahwa orang yang mengaku penyayang binatang tapi masih makan daging adalah munafik. Namun, tentu saja kita tidak bisa menjadi terlalu naif dalam hal ini. Menjadi penyayang binatang adalah masalah kesadaran moral, sedangkan pilihan untuk menjadi vegetaris adalah soal pertimbangan kesehatan. Seorang yang non-vegetaris bisa saja adalah seorang yang peduli dunia satwa, sementara seorang vegetaris yang ketat mungkin saja adalah seorang yang tidak suka binatang. Pandangan manusia terhadap hewan yang hidup di alam bebas dengan daging hewan di atas meja makan tentu berbeda sekali.

Pena inspirasi menulis: "Seorang yang mempunyai Kristus tinggal di hatinya tidak akan berlaku kasar sekalipun kepada ternaknya, karena mereka itu adalah makhluk ciptaan Tuhan. Seorang yang memiliki pengaruh kasih karunia Allah yang menghaluskan dan melembutkan di hatinya tidak akan memukul, menyakiti, atau menyepak ternaknya dengan cara yang tidak mempunyai rasa kasihan. Dia akan ingat bahwa malaikat-malaikat Tuhan menuntut tanggungjawab atas kata-katanya yang keras dan kasar serta tindakannya yang kejam. Surga tidak akan pernah dihuni oleh orang-orang yang bertabiat seperti itu" (Ellen G. White, Manuscript Releases, jld. 21, hlm. 331).

Status manusia dan evolusionisme. Banyak orang yang sangat bangga jika mengetahui dirinya berasal dari garis keturunan tertentu yang secara tradisional memiliki status sosial terpandang di masyarakat, tetapi tidak ada yang merasa bangga jika dikatakan dirinya berasal dari sejenis hewan semacam kera, sekalipun itu adalah "kera sakti" seperti Hanoman dalam tradisi kepercayaan Hinduisme. Meskipun paham evolusi mengakui manusia (homo sapiens) sebagai puncak pengembangan organisme yang paling tinggi dan sempurna, namun menyebut asal-usul manusia adalah dari hewan bukanlah gambaran yang menggembirakan buat saya. Meskipun manusia memang terbuat dari debu dan pada akhirnya akan kembali kepada debu (Kej. 3:19), tetapi manusia adalah ciptaan tangan Allah dan nyawanya berasal dari mulut Allah sendiri (Kej. 2:7).

"Namun, pada saat yang sama, sebagian orang telah melangkah terlalu jauh dengan mengklaim bahwa pada hakekatnya manusia tidak lebih penting daripada binatang, dan oleh sebab itu manusia tidak harus diberi perlakuan istimewa. Dalam banyak cara hal ini merupakan alur pemikiran yang secara logis mengalir dari suatu model evolusi tentang asal-usul manusia. Lagi pula, jika kita dan binatang hanya dipisahkan oleh waktu dan nasib, mengapa kita harus menjadi lebih istimewa dari mereka?" [alinea ketiga: tiga kalimat pertama].

"Kemanusiaan itu sendiri adalah sebuah martabat," kata Immanuel Kant (1724-1804), filsuf dan antropolog Jerman yang terkenal dengan teorinya bahwa dalam diri manusia ada suatu kewajiban moral yang sangat penting dan mutlak (categorical imperative). Prof. Holmes Rolston III, guru besar ilmu filsafat dari Universitas Colorado, yang dianggap sebagai salah seorang filsuf modern dan terkenal dengan kontribusi pandangannya dalam masalah etika lingkungan serta hubungan antara ilmu pengetahuan dan agama, menulis: "Martabat manusia adalah hasil dari (1) sifat dari dan dalam kodrat manusia, dan (2) budaya di mana manusia itu menumbuhkan tabiat mereka. Manusia menghidupkan kehidupan yang berujud. Perwujudan ini, bukan berarti tidak dihargai, adalah penting tapi tidak mencukupi. Hayat kemanusiaan kita membuka lebar ruang-ruang terhadap kemungkinan baru di mana martabat kita dapat (bahkan harus) lebih terdidik dalam kebudayaan. Dalam hal ini, dengan memadukan keterbatasan biologis kita dengan penghalusan kebudayaan, secara radikal kita berbeda dari hewan" (Sumber: http://lamar.colostate.edu/~hrolston/human-uniqueness.pdf).

Apa yang kita pelajari tentang perlakuan terhadap makhluk ciptaan lainnya?
1. Allah telah menciptakan hewan dan menyatakan bahwa makhluk-makhluk itu adalah milik-Nya. Kalau kita adalah orang-orang yang menghormati Tuhan tentu kitapun akan menghargai milik-Nya, sebab apa yang kita lakukan terhadap kepunyaan Tuhan pada dasarnya adalah perlakuan terhadap Dia.
2. Manusia lebih tinggi statusnya dari hewan, karena Allah telah menciptakan dan menentukannya demikian. Dengan menghargai ciptaan-ciptaan Tuhan lainnya, termasuk hewan, kita menghormati martabat kemanusiaan kita sendiri yang luhur dan bermoral.
3. Perlakuan yang baik terhadap hewan menunjukkan rasa tanggungjawab kita selaku pelindung dan pemelihara ciptaan-ciptaan Tuhan lainnya. Sebaliknya, memperlakukan hewan dengan kasar dan kejam menjadikan kita sebagai orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

Selasa, 5 Maret
MERAYAKAN PENCIPTAAN (Hari Sabat dan Lingkungan)

Hubungan kita dengan penciptaan. Manusia adalah bagian dari penciptaan, karena itu kita memiliki hubungan dengan Sang Pencipta dan juga dengan ciptaan-ciptaan lainnya. Bagaimana kita memahami hubungan-hubungan ini akan sangat mempengaruhi sikap dan perilaku kita terhadap ciptaan-ciptaan Tuhan yang lain itu. Ibaratnya, sikap dan perilaku kita terhadap saudara-saudara kandung seyogianya berbeda dengan sikap dan perilaku kita terhadap orang-orang lain yang bukan saudara atau tidak memiliki hubungan keluarga. Sebagaimana kedekatan kita dengan keluarga sendiri adalah karena sama-sama berasal dari satu keturunan, kedekatan kita dengan ciptaan-ciptaan lain adalah karena sama-sama berasal dari satu Pencipta.

"Bagi sebagian orang ciptaan itu untuk dimanfaatkan, digunakan, bahkan dijarah sampai ke tingkat manapun demi untuk memenuhi keinginan dan kemauan kita. Sebaliknya bagi yang lain adalah menyembah ciptaan itu sendiri (baca Roma 1:25). Lalu ada pandangan alkitabiah yang seharusnya memberi kita sudut pandang yang berimbang dalam cara di mana kita berhubungan dengan dunia yang Tuhan ciptakan untuk kita" [alinea kedua].

Belakangan ini banyak bencana alam terjadi yang berkaitan dengan kerusakan alam akibat ulah manusia. Pemanasan global, penipisan lapisan ozon, efek rumah kaca, anomali iklim, banjir dan kebakaran hutan adalah sebagian dari isu-isu yang telah menjadi keprihatinan para pemerhati lingkungan hidup sejak lama. Selain kerusakan alam, perilaku manusia juga telah menyebabkan banyak spesis flora dan fauna yang terancam punah, setidaknya di tingkat lokal. Tidak sedikit jenis buah-buahan maupun hewan yang sekarang sangat sulit untuk ditemukan, termasuk yang tergolong endemik (hanya terdapat di daerah tertentu saja). Saya tidak tahu, berapa banyak anak-anak dan cucu kita sekarang ini yang tidak pernah mengenal lobi-lobi (di daerah saya disebut tome-tome), buah berbentuk kelereng besar yang rasanya manis-kecut? Atau melihat burung gagak berbulu hitam pekat dengan paruh yang kukuh, jenis burung yang berperan dalam kisah nabi Nuh (Kej. 8:7) dan nabi Elia (1Raj. 17:6) itu? Di Amerika, burung-burung gagak masih bisa dijumpai mencari makan di pinggir jalan, suasana yang pernah saya alami pada masa kanak-kanak di kampung halaman lebih dari enampuluh tahun lalu. Entahlah kini.

Sabat, hari perayaan penciptaan. Seperti pernah kita bahas terdahulu, kalau manusia dapat kita sebut sebagai "pangeran penciptaan" maka Sabat hari yang ketujuh dalam pekan adalah "mahkota penciptaan." Istilah-istilah ini menjadi lebih bermakna terutama bila kita mengingat perkataan Yesus, "Hari Sabat diadakan untuk manusia..." (Mrk. 2:27). Hari Sabat yang diadakan oleh Sang Pencipta di penghujung minggu penciptaan adalah karunia tersendiri bagi manusia, satu hari untuk dinikmati dengan cara berhenti dari segala aktivitas dan rutinitas sehari-hari. "Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu" (Kej. 2:2-3; huruf miring ditambahkan).

Pencantuman hukum Sabat hari yang ketujuh dalam Sepuluh Perintah (Hukum Keempat) adalah penegasan kembali akan pentingnya kedudukan hari Sabat dalam penciptaan, di mana manusia harus meniru apa yang Allah lakukan pada hari itu, yakni berhenti, memberkati, dan menguduskan. Dalam Sepuluh Perintah itu sangat jelas disebutkan alasan Allah memerintahkan manusia untuk berhenti "melakukan segala pekerjaan" (Kel. 20:9). "Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya" (ay. 11; huruf miring ditambahkan). Perhatikan tiga hal yang disebutkan dalam kitab Kejadian diulangi kembali dalam kitab Keluaran.

"Oleh mengarahkan kita kepada fakta bahwa Allah menciptakan kita dan dunia yang kita tempati ini, hari Sabat merupakan pengingat yang terus-menerus bahwa kita bukanlah ciptaan yang sepenuhnya otonom yang bisa berbuat apa saja yang diinginkan terhadap orang lain dan kepada dunia itu sendiri. Sabat seharusnya mengajarkan kita bahwa kita sesungguhnya adalah penatalayan-penatalayan, dan bahwa penatalayanan menuntut tanggungjawab" [alinea terakhir: dua kalimat pertama].

Apa yang kita pelajari tentang kedudukan hari Sabat dalam penciptaan?
1. Hari Sabat dan kita manusia sama-sama adalah "produk" dari penciptaan. Manusia ada, dan hari Sabat itu juga ada, oleh sebab Allah yang mengadakannya. Dalam pengertian tertentu, hari Sabat merupakan "mahkota penciptaan" yang dikenakan kepada manusia sebagai "pangeran penciptaan."
2. Dalam Sepuluh Perintah Allah (Hukum Moral), perintah untuk berhenti pada hari Sabat dicantumkan supaya manusia selalu mengingat akan penciptaan alam semesta yang Alllah telah lakukan. Dengan kata lain, Sabat hari yang ketujuh adalah semacam "hari perayaan penciptaan" yang harus diperingati setiap minggu.
3. Perhentian pada Sabat hari ketujuh juga mengingatkan kita akan tanggungjawab kita sebagai penatalayan-penatalayan Allah untuk tugas perawatan dan pelestarian alam sebagai lingkungan hidup manusia maupun terhadap ciptaan-ciptaan lainnya.

Rabu, 6 Maret
TANGGUNGJAWAB PRIBADI (Penatalayan Terhadap Kesehatan Kita)

Kemerosotan kondisi manusia. Manusia telah diciptakan dalam keadaan sempurna dan pada mulanya keadaannya "sungguh amat baik." Bahwa sekarang ini kondisi umum manusia jauh dari sempurna dan amat rentan terhadap macam-macam penyakit, itu adalah akibat dari suatu sebab: dosa. Dalam dunia biologi kondisi ini dikenal dengan sebutan dysgenics, sebuah istilah yang mulai digunakan tahun 1915 sebagai suatu kajian ilmiah tentang kemerosotan genetik dalam populasi manusia moderen, khususnya di kalangan bangsa-bangsa Barat.

Sementara sebagian pakar kesehatan mengaitkan kondisi ini dengan kelainan genetik, para ilmuwan penganut ajaran evolusi menyebutnya sebagai akibat dari apa yang mereka sebut "pengenduran seleksi alam" (relaxation of natural selection), yaitu "proses oleh mana alam pada setiap generasi menyingkirkan yang tidak sehat dengan menurunkan kesuburan mereka dan dengan kematian dini." Francis Galton, keponakan Charles Darwin yang masih muda, adalah orang yang paling memikirkan masalah ini. Dia pun mengajukan solusi untuk mengatasinya dengan cara menggantikan seleksi alam itu dengan apa yang dia sebut "seleksi yang sengaja dirancang" (consciously designed selection) "melalui mana masyarakat akan mengontrol dan memperbaiki kualitas genetika mereka sendiri." Untuk itu dia menyodorkan istilah eugenics (1883). Tetapi belakangan ditetapkan bahwa istilah yang dipakai untuk kemerosotan genetika adalah dysgenics, sedangkan eugenics digunakan untuk memperbaiki kondisi tersebut. (Sumber: Richard Lynn--http://www.ulsterinstitute.org/preview/DYSGENICS_chapter1.pdf).

"Berlawanan dengan model evolusi--di mana penyakit dan kematian adalah bagian dari sarana utama penciptaan--hal-hal ini datang hanya setelah kejatuhan, sesudah masuknya dosa. Jadi, hanya dengan latar belakang riwayat Penciptaan maka kita dapat memahami dengan lebih baik ajaran Alkitab tentang kesehatan dan penyembuhan" [alinea pertama: dua kalimat terakhir].

Memelihara bait Tuhan. Prinsip alkitabiah menyatakan bahwa segala ciptaan, termasuk manusia, adalah milik Allah sebagai Pencipta. Artinya, manusia tidak dapat memperlakukan ataupun memanfaatkan tubuhnya sesuka hati seperti miliknya sendiri. Kembali lagi, dalam hal ini berlaku konsep penatalayanan, bahwa kita hanyalah penatalayan Allah atas tubuh kita--merawat tubuh kita sendiri untuk dan atas nama Sang Pencipta. Dalam perkataan lain, tubuh oleh mana kita hidup ini adalah "titipan" Allah untuk dipelihara, dirawat, dan digunakan bagi maksud-maksud Allah selaku Pemilik dari tubuh kita ini. Hal ini merupakan tanggungjawab pribadi.

Tulis rasul Paulus: "Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah -- dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!" (1Kor. 6: 19, 20). Sekali lagi, kedua ayat ini menegaskan kembali kepemilikan Allah atas diri kita karena dua hal, oleh penciptaan dan penebusan.

"Tubuh kita adalah wahana bagi otak kita, dan adalah melalui pikiran kita Roh Kudus berkomunikasi dengan kita. Jika kita ingin memiliki persekutuan dengan Allah, kita harus merawat tubuh dan pikiran kita. Kalau kita menyalahgunakan tubuh kita, maka kita merusak diri kita, baik secara fisik maupun rohani. Menurut ayat-ayat ini, seluruh pertanyaan tentang kesehatan itu sendiri, dan bagaimana kita merawat tubuh kita, yakni 'bait Allah,' merupakan masalah moral yang mengandung akibat-akibat yang abadi" [alinea kedua].

Apa yang kita pelajari tentang penatalayanan terhadap kesehatan kita?
1. Pada mulanya manusia telah diciptakan dalam keadaan sangat sempurna dan amat baik. Kejatuhan manusia ke dalam dosa telah mengubah segalanya, mendatangkan kemerosotan atas seluruh ciptaan dengan semua akibatnya secara turun-temurun.
2. Manusia boleh berusaha dan mengikhtiarkan segala cara untuk memperbaiki keadaan dirinya yang merosot akibat dosa, tetapi apapun itu tidak akan pernah bisa mengembalikan kondisi semula sebelum berdosa. Tetapi ada pengharapan, bila Yesus datang kedua kali semuanya akan dipulihkan.
3. Sementara menantikan saat itu, kita mengemban tanggungjawab pribadi untuk merawat tubuh kita ini agar selalu sehat. Perawatan tubuh yang benar bukanlah dengan motivasi penampilan diri, melainkan atas kesadaran bahwa tubuh kita ini adalah "bait Allah" di mana Roh Tuhan tinggal.

Kamis, 7 Maret
MERAWAT MILIK TUHAN (Prinsip-prinsip Penatalayanan)

Pemberian Allah yang baik dan sempurna. Adalah suatu kenyataan yang membesarkan hati bahwa meskipun manusia sudah berdosa dengan melawan perintah Allah, namun Tuhan tidak pernah berhenti mengaruniakan hal-hal yang baik kepada manusia. Mengapa? Karena Tuhan tetap memperlakukan kita sebagai para penatalayan-Nya. Dan rasul Yakobus menyaksikan, "Setiap pemberian yang baik dan hadiah yang sempurna datangnya dari surga, diturunkan oleh Allah, Pencipta segala terang di langit. Ialah Allah yang tidak berubah, dan tidak pula menyebabkan kegelapan apa pun" (Yak. 1:7, BIMK; huruf miring ditambahkan).

Perhatikan, sang rasul menekankan perihal sifat Allah "yang tidak berubah" sebagai jaminan bahwa setiap pemberian dan anugerah dari pada-Nya itu selalu "baik" dan "sempurna." Kata asli untuk baik di sini adalah ἀγαθός, agathos, sebuah kata-sifat yang juga mengandung arti berguna dan unggul. Sedangkan kata asli untuk sempurna pada ayat ini adalah τέλειος, teleios, kata-sifat yang artinya tidak ada kekurangan yang perlu ditambahkan. Jadi, semua pemberian Allah kepada manusia selalu memiliki keunggulan serta berguna, dan setiap anugerah ataupun hadiah dari pada-Nya itu selamanya tidak mengandung kekurangan apapun. Tidak ada hadiah, pemberian, atau anugerah apapun dari dunia ini yang sebanding dengan apa yang diberikan oleh Tuhan kepada kita.

Konsep penatalayanan alkitabiah. Sekarang, coba kita berintrospeksi dan menyelidiki hidup kita masing-masing: pemberian dan hadiah apa saja yang Allah sudah berikan kepada anda dan saya selama hidup? Seberapa besar manfaat dari pemberian itu dalam kehidupan kita, dan bagaimana kita melihat keunggulan dari pemberian itu dibandingkan dengan apa yang orang lain miliki atau tidak miliki? Talenta dan bakat? Kecerdasan dan kemampuan berpikir? Kesehatan dan kekuatan fisik? Pengaruh dan reputasi? Kekayaan dan kemakmuran? Waktu dan kesempatan? Pemeliharaan dan pimpinan Tuhan? Rumahtangga dan keluarga? Kita sering menyebut pemberian dan anugerah Tuhan itu dengan berkat, dan semakin anda merenungkannya kian bertambah pula daftar berkat-berkat Tuhan dalam hidup anda.

Nah, bagaimana anggapan anda dengan semua pemberian Tuhan tersebut, apakah itu dihadiahkan kepada anda untuk dinikmati sendiri dan demi kepentingan pribadi anda saja? Nasihat rasul Petrus adalah, "Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah" (1Ptr. 4:10; huruf miring ditambahkan). Kata asli yang diterjemahkan dengan pengurus dalam ayat ini adalah οἰκονόμος, oikonomos, sebuah kata-benda maskulin dalam bahasa Grika yang berarti pengelola (Bhs. Inggris: manager). "Pada akhirnya, karena Allah adalah Pencipta kita, dan oleh sebab segala sesuatu yang kita miliki adalah karunia dari Dia, maka kita diwajibkan di hadapan-Nya untuk menjadi penatalayan-penatalayan yang baik atas apapun yang telah dipercayakan kepada kita" [alinea pertama: kalimat terakhir].

Melalui perumpamaan tentang talenta (Mat. 25:14-30), Yesus menuntut kita untuk menjadi pengelola-pengelola yang baik dan bertanggungjawab atas milik Tuhan yang dikaruniakan kepada kita. Dalam perumpamaan ini ada beberapa pesan pekabaran yang kita dapatkan: (1) Karunia-karunia yang tidak sama itu, baik jumlah maupun jenisnya, mencerminkan keadilan Tuhan yang mengetahui kesanggupan seseorang; (2) Setiap orang diberi waktu dan kesempatan yang sama untuk menggunakan talentanya; (3) Pemberian atau karunia itu hanya titipan dari Tuhan, bukan milik kita; (4) Karunia atau talenta itu dipercayakan kepada kita supaya digunakan, bukan untuk disimpan; dan (5) Tuhan menuntut hasil keuntungan atau nilai tambah dari karunia-karunia itu, bukan sekadar kembali modal.

"Masing-masing mempunyai tempatnya dalam rencana kekekalan surga. Masing-masing harus bekerjasama dengan Kristus untuk keselamatan jiwa-jiwa. Tidak lebih pasti tempat yang disediakan bagi kita di istana surgawi daripada tempat khusus yang ditentukan di dunia ini di mana kita harus bekerja bagi Tuhan" [alinea terakhir: tiga kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang prinsip-prinsip alkitabiah tentang penatalayanan?
1. Allah tetap mengaruniakan kepada manusia berbagai pemberian sejak masa penciptaan hingga sekarang ini, dan semua itu pun tetap sempurna dan baik. Hal ini karena Tuhan tidak pernah berubah, baik kemarin, sekarang, dan selama-lamanya (Ibr. 13:8; Mal. 3:6).
2. Setiap orang yang dipercayakan dengan pemberian dari Allah dengan sendirinya menjadi pengelola (manajer) atas milik Tuhan yang dititipkan kepadanya. Pertanggungjawaban kita harus berupa hasil-hasil dari penggunaan karunia tersebut.
3. Pemberian dan karunia dari Tuhan diberikan dalam jumlah dan jenis yang berbeda-beda, sesuai dengan penilaian Tuhan akan kesanggupan kita masing-masing. Keadilan tidak berarti harus sama rata; keadilan berarti proporsional.

Jumat, 8 Maret
PENUTUP

Hidup untuk melayani. Sementara bagi banyak orang hidup itu adalah untuk dinikmati, bagi kita sebagai umat Tuhan hidup itu adalah untuk melayani. Pemahaman ini didasarkan pada keyakinan bahwa kita adalah milik Tuhan, oleh penciptaan maupun penebusan, dan keberadaan kita bukan semata-mata untuk diri kita sendiri melainkan untuk melayani Tuhan.

"Pengikut-pengikut Kristus telah ditebus untuk melayani. Tuhan kita mengajarkan bahwa tujuan hidup yang sebenarnya ialah pelayanan. Kristus sendiri adalah seorang pekerja, dan kepada semua pengikut-Nya Ia memberikan hukum tentang pelayanan--melayani Allah dan sesama manusia. Di sini Kristus menyajikan kepada dunia suatu pengertian tentang kehidupan yang lebih tinggi dari apa yang pernah mereka ketahui" [empat kalimat pertama].

Anda dan saya--maupun setiap orang yang menyadari dan merasakan tanggungjawab ini--dapat melayani Tuhan dengan apa yang telah dikaruniakan-Nya kepada kita masing-masing, yaitu berbagai potensi dan sumberdaya pribadi yang kita miliki. Allah itu maha adil, Dia tidak menuntut kita untuk melayani-Nya tanpa lebih dulu melengkapi kita dengan berbagai karunia dan pemberian yang bermanfaat dalam pelayanan dimaksud. Melayani adalah gaya hidup umat Kristen sejati, dalam pelayanan vertikal kepada Tuhan dan pelayanan horisontal terhadap sesama manusia.

Sesungguhnya, pelayanan itu bukanlah memberikan sesuatu dari sumberdaya kita, melainkan memanfaatkan sesuatu dari perbendaharaan Tuhan yang ada dalam diri kita. Sebab anda dan saya hanyalah penatalayan atas milik Tuhan, layaknya seorang manajer yang diangkat untuk mengelola "bisnis" Tuhan di dunia ini. Minimal kita bisa melayani Dia dengan merawat dan memelihara lingkungan hidup di mana kita berada. Sebagaimana semboyan PBB untuk pelestarian alam, Think globally, act locally, sembari peduli terhadap kondisi Bumi secara menyeluruh kita dapat berbuat sesuatu yang sederhana di lingkungan kita sendiri.

"Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku..." (1Tim. 1:12).

"MERAWAT CIPTAAN ALLAH"

PELAJARAN SEKOLAH SABAT DEWASA PEKAN INI: "MERAWAT CIPTAAN ALLAH"

oleh Loddy Lintong pada 7 Maret 2013 pukul 15:38 ·


PELAJARAN KE-X; 9 Maret 2013
"PENATALAYANAN DAN LINGKUNGAN"


Sabat Petang, 2 Maret
PENDAHULUAN

Dasar pemahaman. Pekan ini kita membahas kewenangan dan kewajiban manusia terhadap bumi yang merupakan lingkungan hidup kita, sebagaimana yang dimaksudkan Allah kepada Adam pada awal penciptaan. Tetapi sebelum kita beranjak lebih jauh, baiklah kita kenali dulu makna dua istilah yang menjadi tema pembahasan pelajaran pekan ini, yaitu penatalayanan dan lingkungan.

Penatalayanan. Ini merupakan sebuah kata bentukan yang terdiri atas dua kata yang disandingkan, penataan dan pelayanan. Kata penatalayanan adalah padanan untuk kata stewardship dalam bahasa Inggris, yang definisinya--menurut Dictionary.com yang mengutip kamus terbitan Random House--adalah: (1) jabatan dan tugas-tugas pelayan atau pengurus, seorang yang bertugas mewakili orang lain, khususnya dalam mengelola harta benda, keuangan, kekayaan, dsb; (2) tanggungjawab untuk mengawasi dan melindungi sesuatu yang dianggap berharga untuk dirawat dan dipelihara. Sedangkan Wikipedia menerangkan bahwa "penatalayanan" merupakan suatu keyakinan teologis bahwa manusia bertanggungjawab atas dunia ini, yang bagi umat Kristen landasan alkitabiahnya terdapat dalam Kej. 2:15, Im. 25:1-5, dan khususnya perumpamaan Tuhan Yesus dalam Mat. 25:14-30.

Lingkungan. Ini adalah padanan untuk kata environment (Inggris). Menurut definisi dari situs KamusBahasaIndonesia.org, kata ini berarti daerah atau kawasan yang berada di dalamnya; bagian wilayah; golongan; dan semua yang mempengaruhi pertumbuhan manusia dan hewan. Lingkungan terbagi ke dalam lima bagian, yakni lingkungan alam, lingkungan hidup, lingkungan kebudayaan, lingkungan mati, dan lingkungan sosial. Wikipedia Indonesia menerangkan bahwa "Lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya alam seperti tanah, air, energi surya, mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan, dengan kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti keputusan bagaimana menggunakan lingkungan fisik tersebut." Lingkungan terbagi ke dalam komponen "abiotik" (tidak bernyawa: tanah, udara, iklim, dsb) dan "biotik" (bernyawa: tumbuhan, hewan, manusia, dan mikro organisme). Ilmu yang mempelajari tentang lingkungan adalah ekologi.

Pelajaran Sekolah Sabat pekan ini, sebagaimana dimaksud oleh penyusun pelajarannya, ialah untuk membahas tentang hubungan antara manusia--sebagai makhluk ciptaan yang tertinggi dan paling cerdas--dengan Bumi ciptaan Allah beserta lingkungannya, baik komponen biotik maupun abiotik. "Di dalam ciptaan ini Ia menempatkan manusia, yang dengan sengaja dihubungkan dengan Diri-Nya, orang lain, dan dunia sekitarnya. Karena itu, sebagai umat Advent, kita menganggap pelestarian dan pemeliharaannya berkaitan erat dengan pelayanan kita kepada-Nya..."[alinea kedua: dua kalimat terakhir].

Dalam perkataan lain, Gereja Advent menyadari bahwa sebagai umat Tuhan kita mengemban tanggungjawab untuk memelihara dan merawat lingkungan hidup di mana kita tinggal, percaya bahwa kita ditempatkan di dunia ini untuk menjadi penatalayan-penatalayan atas ciptaan Tuhan--yaitu orang-orang yang melaksanakan tugas perawatan dan pemeliharaan alam ini demi Sang Pencipta.

Pena inspirasi menulis: "Bahwa apa yang menjadi dasar dari integritas bisnis dan kesuksesan sejati adalah pengakuan akan kepemilikan Allah. Sang Pencipta dari segala sesuatu, Dialah pemilik yang asli. Kita adalah para penatalayan-Nya. Apa yang kita miliki adalah sebuah kepercayaan dari Dia untuk digunakan sesuai petunjuk-Nya. Ini merupakan kewajiban yang terletak atas setiap manusia. Hal ini menyangkut seluruh lingkup aktivitas manusia. Apakah kita mengakuinya atau tidak, kita adalah penatalayan-penatalayan yang memperoleh talenta dan fasilitas dari Allah serta ditempatkan di dunia untuk melaksanakan suatu pekerjaan yang ditentukan oleh Dia" (Ellen G. White, The Adventist Home, hlm. 367).

Minggu, 3 Maret
MANDAT DARI SANG PENCIPTA (Kekuasaan yang Diberikan pada Penciptaan)

Keunggulan dan kekuasaan. Alkitab mengajarkan bahwa manusia bukan saja makhluk ciptaan yang paling mulia di Bumi ini, tapi juga paling cerdas dan paling berkuasa. Tentu saja keunggulan-keunggulan itu dikaruniakan bukan tanpa sesuatu maksud, tetapi semua itu diberikan kepada manusia berkenaan dengan tugas dan fungsi kita sebagai pelaksana dalam hal perawatan dan pemeliharaan ciptaan Allah di planet ini.

Setelah menciptakan Bumi dan isinya, pada hari yang keenam Allah kemudian berfirman: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi" (Kej. 1:26; huruf miring ditambahkan). Perhatikan, Allah telah berencana untuk memberikan kepada manusia kekuasaan atas alam ciptaan-Nya ini sebelum Adam diciptakan, itulah sebabnya Dia menciptakan manusia itu menurut gambar dan rupa-Nya sendiri. Dengan kata lain, penciptaan manusia didesain menurut citra Allah dan dilengkapi dengan keunggulan-keunggulan melebihi seluruh ciptaan lainnya, oleh karena manusia hendak diberi kuasa atas semua ciptaan lain di planet ini!

"Menurut Kejadian 1:26, kekuasaan Adam meluas sampai ke semua ciptaan lainnya yang ada--di laut, di darat, dan di udara. Kekuasaan mencakup maksud memerintah atau memiliki kuasa atas makhluk-makhluk ini. Tidak dikatakan tentang kekuasaan atas kekuatan alam itu sendiri tetapi hanya atas makhluk ciptaan. Dan, menurut ayat itu lagi, kuasa memerintah ini bersifat sejagat. Intinya, Adam harus menjadi penguasa bumi" [alinea pertama].

Dalam ketakjubannya pemazmur menulis, "Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kau letakkan di bawah kakinya" (Mzm. 8:4-7; huruf miring ditambahkan). Adam mulai menjalankan kekuasaannya itu ketika dia memberi nama kepada makhluk-makhluk hidup lainnya (Kej. 2:19). "Wewenang memberi nama pada burung-burung dan binatang-binatang merupakan penegasan akan status Adam sebagai penguasa atas hewan-hewan" [alinea kedua: kalimat terakhir].

Prinsip penatalayanan. Segera setelah Adam diciptakan, Allah menempatkannya di rumah alamiah yang asri, Taman Eden. "TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu" (Kej. 2:15; huruf miring ditambahkan). Kata Ibrani yang diterjemahkan dengan mengusahakan dalam ayat ini adalah עָבַד,`abad (dilafalkan: ävad), yang berarti bekerja atau melayani; sedangkan kata asli untuk memelihara adalah שָׁמַר, shamar (dilafalkan: syämar), yang artinya mengawasi atau melindungi. Sebelum Adam mempraktikkan wewenangnya dengan memberi nama kepada binatang-binatang itu, dia lebih dulu menerima tanggungjawabnya sebagai pemelihara dan pelindung alam ini.

Kewajibannya atas alam tersebut menempatkan Adam selaku "penatalayan" Allah (=pelaksana tugas untuk dan atas nama Allah), dan dengan demikian kewajiban tersebut mengandung prinsip penatalayanan. "Taman itu merupakan hadiah kepada Adam, sebuah ungkapan kasih Allah, dan sekarang Adam telah diberi tanggungjawab atasnya, sebuah contoh lain dari kekuasaan yang Adam terima pada saat Penciptaan" [alinea terakhir: kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang kekuasaan yang Allah berikan kepada Adam?
1. Adam telah diciptakan menurut citra Allah, disertai dengan keunggulan-keunggulan, oleh sebab manusia itu akan memangku kekuasaan atas bumi ini dan semua ciptaan lainnya. 
2. Kekuasaan yang Allah berikan kepada manusia itu agar dia dapat melaksanakan pekerjaan serta tugas-tugas atas alam ini, untuk dan atas nama Sang Pencipta sebagai Pemilik. Dengan demikian maka manusia sesungguhnya adalah "penatalayan-penatalayan" Allah.
3. Dengan menyadari status asli yang diberikan Allah kepada manusia pada saat penciptaan, seyogianya kita manusia akan memiliki pandangan dan sikap yang lebih bertanggungjawab terhadap kelestarian alam ciptaan Allah ini.

Senin, 4 Maret
PERLAKUAN TERHADAP HEWAN (Memelihara Ciptaan Lainnya)

Pernyataan kepemilikan Allah. Di seluruh Alkitab dan dalam berbagai peristiwa Allah mengumandangkan kepemilikan-Nya atas alam semesta, termasuk Bumi dan segala isinya. Ketika bangsa Israel diperintahkan untuk mempersembahkan kurban lembu jantan dan domba jantan secara rutin dan teratur sebagai bagian dari peribadatan, sesungguhnya umat itu tidak membawa hewan-hewan kurban sebagai pemberian mereka kepada Allah. Sebab, sebagaimana dikatakan-Nya, "Tidak usah Aku mengambil lembu dari rumahmu atau kambing jantan dari kandangmu, sebab punya-Kulah segala binatang hutan, dan beribu-ribu hewan di gunung. Aku kenal segala burung di udara, dan apa yang bergerak di padang adalah dalam kuasa-Ku" (Mzm. 50:9-11).

Allah memiliki dunia ini dan segala hewan yang ada di dalamnya oleh karena Dialah yang telah menciptakan semua itu. Sebagai Pencipta alam semesta Allah layak menerima puji-pujian dan penghormatan dari seluruh makhluk ciptaan-Nya, sebagaimana diakui oleh kedua puluh empat tua-tua seperti yang disaksikan Yohanes Pembaptis dalam suatu penglihatan (Why. 4:11). "Penciptaan hewan-hewan bukanlah sebuah kebetulan atau gagasan yang muncul belakangan. Allah sengaja menciptakan mereka. Adalah kehendak-Nya bahwa semuanya itu harus ada, dan prinsip ini harus menuntun perlakuan kita atas mereka" [alinea pertama].

Sekarang, apa hubungannya antara menjadi penyayang binatang dengan vegetarisme? Sebagian orang yang berpandangan ekstrem telah mengaitkan pola makan tanpa daging sebagai bukti nyata dari sikap menyayangi binatang. Bahkan, seorang pendukung vegetarisme dalam forum di situs veggieboards menuding bahwa orang yang mengaku penyayang binatang tapi masih makan daging adalah munafik. Namun, tentu saja kita tidak bisa menjadi terlalu naif dalam hal ini. Menjadi penyayang binatang adalah masalah kesadaran moral, sedangkan pilihan untuk menjadi vegetaris adalah soal pertimbangan kesehatan. Seorang yang non-vegetaris bisa saja adalah seorang yang peduli dunia satwa, sementara seorang vegetaris yang ketat mungkin saja adalah seorang yang tidak suka binatang. Pandangan manusia terhadap hewan yang hidup di alam bebas dengan daging hewan di atas meja makan tentu berbeda sekali.

Pena inspirasi menulis: "Seorang yang mempunyai Kristus tinggal di hatinya tidak akan berlaku kasar sekalipun kepada ternaknya, karena mereka itu adalah makhluk ciptaan Tuhan. Seorang yang memiliki pengaruh kasih karunia Allah yang menghaluskan dan melembutkan di hatinya tidak akan memukul, menyakiti, atau menyepak ternaknya dengan cara yang tidak mempunyai rasa kasihan. Dia akan ingat bahwa malaikat-malaikat Tuhan menuntut tanggungjawab atas kata-katanya yang keras dan kasar serta tindakannya yang kejam. Surga tidak akan pernah dihuni oleh orang-orang yang bertabiat seperti itu" (Ellen G. White, Manuscript Releases, jld. 21, hlm. 331).

Status manusia dan evolusionisme. Banyak orang yang sangat bangga jika mengetahui dirinya berasal dari garis keturunan tertentu yang secara tradisional memiliki status sosial terpandang di masyarakat, tetapi tidak ada yang merasa bangga jika dikatakan dirinya berasal dari sejenis hewan semacam kera, sekalipun itu adalah "kera sakti" seperti Hanoman dalam tradisi kepercayaan Hinduisme. Meskipun paham evolusi mengakui manusia (homo sapiens) sebagai puncak pengembangan organisme yang paling tinggi dan sempurna, namun menyebut asal-usul manusia adalah dari hewan bukanlah gambaran yang menggembirakan buat saya. Meskipun manusia memang terbuat dari debu dan pada akhirnya akan kembali kepada debu (Kej. 3:19), tetapi manusia adalah ciptaan tangan Allah dan nyawanya berasal dari mulut Allah sendiri (Kej. 2:7).

"Namun, pada saat yang sama, sebagian orang telah melangkah terlalu jauh dengan mengklaim bahwa pada hakekatnya manusia tidak lebih penting daripada binatang, dan oleh sebab itu manusia tidak harus diberi perlakuan istimewa. Dalam banyak cara hal ini merupakan alur pemikiran yang secara logis mengalir dari suatu model evolusi tentang asal-usul manusia. Lagi pula, jika kita dan binatang hanya dipisahkan oleh waktu dan nasib, mengapa kita harus menjadi lebih istimewa dari mereka?" [alinea ketiga: tiga kalimat pertama].

"Kemanusiaan itu sendiri adalah sebuah martabat," kata Immanuel Kant (1724-1804), filsuf dan antropolog Jerman yang terkenal dengan teorinya bahwa dalam diri manusia ada suatu kewajiban moral yang sangat penting dan mutlak (categorical imperative). Prof. Holmes Rolston III, guru besar ilmu filsafat dari Universitas Colorado, yang dianggap sebagai salah seorang filsuf modern dan terkenal dengan kontribusi pandangannya dalam masalah etika lingkungan serta hubungan antara ilmu pengetahuan dan agama, menulis: "Martabat manusia adalah hasil dari (1) sifat dari dan dalam kodrat manusia, dan (2) budaya di mana manusia itu menumbuhkan tabiat mereka. Manusia menghidupkan kehidupan yang berujud. Perwujudan ini, bukan berarti tidak dihargai, adalah penting tapi tidak mencukupi. Hayat kemanusiaan kita membuka lebar ruang-ruang terhadap kemungkinan baru di mana martabat kita dapat (bahkan harus) lebih terdidik dalam kebudayaan. Dalam hal ini, dengan memadukan keterbatasan biologis kita dengan penghalusan kebudayaan, secara radikal kita berbeda dari hewan" (Sumber: http://lamar.colostate.edu/~hrolston/human-uniqueness.pdf).

Apa yang kita pelajari tentang perlakuan terhadap makhluk ciptaan lainnya?
1. Allah telah menciptakan hewan dan menyatakan bahwa makhluk-makhluk itu adalah milik-Nya. Kalau kita adalah orang-orang yang menghormati Tuhan tentu kitapun akan menghargai milik-Nya, sebab apa yang kita lakukan terhadap kepunyaan Tuhan pada dasarnya adalah perlakuan terhadap Dia.
2. Manusia lebih tinggi statusnya dari hewan, karena Allah telah menciptakan dan menentukannya demikian. Dengan menghargai ciptaan-ciptaan Tuhan lainnya, termasuk hewan, kita menghormati martabat kemanusiaan kita sendiri yang luhur dan bermoral.
3. Perlakuan yang baik terhadap hewan menunjukkan rasa tanggungjawab kita selaku pelindung dan pemelihara ciptaan-ciptaan Tuhan lainnya. Sebaliknya, memperlakukan hewan dengan kasar dan kejam menjadikan kita sebagai orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

Selasa, 5 Maret
MERAYAKAN PENCIPTAAN (Hari Sabat dan Lingkungan)

Hubungan kita dengan penciptaan. Manusia adalah bagian dari penciptaan, karena itu kita memiliki hubungan dengan Sang Pencipta dan juga dengan ciptaan-ciptaan lainnya. Bagaimana kita memahami hubungan-hubungan ini akan sangat mempengaruhi sikap dan perilaku kita terhadap ciptaan-ciptaan Tuhan yang lain itu. Ibaratnya, sikap dan perilaku kita terhadap saudara-saudara kandung seyogianya berbeda dengan sikap dan perilaku kita terhadap orang-orang lain yang bukan saudara atau tidak memiliki hubungan keluarga. Sebagaimana kedekatan kita dengan keluarga sendiri adalah karena sama-sama berasal dari satu keturunan, kedekatan kita dengan ciptaan-ciptaan lain adalah karena sama-sama berasal dari satu Pencipta.

"Bagi sebagian orang ciptaan itu untuk dimanfaatkan, digunakan, bahkan dijarah sampai ke tingkat manapun demi untuk memenuhi keinginan dan kemauan kita. Sebaliknya bagi yang lain adalah menyembah ciptaan itu sendiri (baca Roma 1:25). Lalu ada pandangan alkitabiah yang seharusnya memberi kita sudut pandang yang berimbang dalam cara di mana kita berhubungan dengan dunia yang Tuhan ciptakan untuk kita" [alinea kedua].

Belakangan ini banyak bencana alam terjadi yang berkaitan dengan kerusakan alam akibat ulah manusia. Pemanasan global, penipisan lapisan ozon, efek rumah kaca, anomali iklim, banjir dan kebakaran hutan adalah sebagian dari isu-isu yang telah menjadi keprihatinan para pemerhati lingkungan hidup sejak lama. Selain kerusakan alam, perilaku manusia juga telah menyebabkan banyak spesis flora dan fauna yang terancam punah, setidaknya di tingkat lokal. Tidak sedikit jenis buah-buahan maupun hewan yang sekarang sangat sulit untuk ditemukan, termasuk yang tergolong endemik (hanya terdapat di daerah tertentu saja). Saya tidak tahu, berapa banyak anak-anak dan cucu kita sekarang ini yang tidak pernah mengenal lobi-lobi (di daerah saya disebut tome-tome), buah berbentuk kelereng besar yang rasanya manis-kecut? Atau melihat burung gagak berbulu hitam pekat dengan paruh yang kukuh, jenis burung yang berperan dalam kisah nabi Nuh (Kej. 8:7) dan nabi Elia (1Raj. 17:6) itu? Di Amerika, burung-burung gagak masih bisa dijumpai mencari makan di pinggir jalan, suasana yang pernah saya alami pada masa kanak-kanak di kampung halaman lebih dari enampuluh tahun lalu. Entahlah kini.

Sabat, hari perayaan penciptaan. Seperti pernah kita bahas terdahulu, kalau manusia dapat kita sebut sebagai "pangeran penciptaan" maka Sabat hari yang ketujuh dalam pekan adalah "mahkota penciptaan." Istilah-istilah ini menjadi lebih bermakna terutama bila kita mengingat perkataan Yesus, "Hari Sabat diadakan untuk manusia..." (Mrk. 2:27). Hari Sabat yang diadakan oleh Sang Pencipta di penghujung minggu penciptaan adalah karunia tersendiri bagi manusia, satu hari untuk dinikmati dengan cara berhenti dari segala aktivitas dan rutinitas sehari-hari. "Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu" (Kej. 2:2-3; huruf miring ditambahkan).

Pencantuman hukum Sabat hari yang ketujuh dalam Sepuluh Perintah (Hukum Keempat) adalah penegasan kembali akan pentingnya kedudukan hari Sabat dalam penciptaan, di mana manusia harus meniru apa yang Allah lakukan pada hari itu, yakni berhenti, memberkati, dan menguduskan. Dalam Sepuluh Perintah itu sangat jelas disebutkan alasan Allah memerintahkan manusia untuk berhenti "melakukan segala pekerjaan" (Kel. 20:9). "Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya" (ay. 11; huruf miring ditambahkan). Perhatikan tiga hal yang disebutkan dalam kitab Kejadian diulangi kembali dalam kitab Keluaran.

"Oleh mengarahkan kita kepada fakta bahwa Allah menciptakan kita dan dunia yang kita tempati ini, hari Sabat merupakan pengingat yang terus-menerus bahwa kita bukanlah ciptaan yang sepenuhnya otonom yang bisa berbuat apa saja yang diinginkan terhadap orang lain dan kepada dunia itu sendiri. Sabat seharusnya mengajarkan kita bahwa kita sesungguhnya adalah penatalayan-penatalayan, dan bahwa penatalayanan menuntut tanggungjawab" [alinea terakhir: dua kalimat pertama].

Apa yang kita pelajari tentang kedudukan hari Sabat dalam penciptaan?
1. Hari Sabat dan kita manusia sama-sama adalah "produk" dari penciptaan. Manusia ada, dan hari Sabat itu juga ada, oleh sebab Allah yang mengadakannya. Dalam pengertian tertentu, hari Sabat merupakan "mahkota penciptaan" yang dikenakan kepada manusia sebagai "pangeran penciptaan."
2. Dalam Sepuluh Perintah Allah (Hukum Moral), perintah untuk berhenti pada hari Sabat dicantumkan supaya manusia selalu mengingat akan penciptaan alam semesta yang Alllah telah lakukan. Dengan kata lain, Sabat hari yang ketujuh adalah semacam "hari perayaan penciptaan" yang harus diperingati setiap minggu.
3. Perhentian pada Sabat hari ketujuh juga mengingatkan kita akan tanggungjawab kita sebagai penatalayan-penatalayan Allah untuk tugas perawatan dan pelestarian alam sebagai lingkungan hidup manusia maupun terhadap ciptaan-ciptaan lainnya.

Rabu, 6 Maret
TANGGUNGJAWAB PRIBADI (Penatalayan Terhadap Kesehatan Kita)

Kemerosotan kondisi manusia. Manusia telah diciptakan dalam keadaan sempurna dan pada mulanya keadaannya "sungguh amat baik." Bahwa sekarang ini kondisi umum manusia jauh dari sempurna dan amat rentan terhadap macam-macam penyakit, itu adalah akibat dari suatu sebab: dosa. Dalam dunia biologi kondisi ini dikenal dengan sebutan dysgenics, sebuah istilah yang mulai digunakan tahun 1915 sebagai suatu kajian ilmiah tentang kemerosotan genetik dalam populasi manusia moderen, khususnya di kalangan bangsa-bangsa Barat.

Sementara sebagian pakar kesehatan mengaitkan kondisi ini dengan kelainan genetik, para ilmuwan penganut ajaran evolusi menyebutnya sebagai akibat dari apa yang mereka sebut "pengenduran seleksi alam" (relaxation of natural selection), yaitu "proses oleh mana alam pada setiap generasi menyingkirkan yang tidak sehat dengan menurunkan kesuburan mereka dan dengan kematian dini." Francis Galton, keponakan Charles Darwin yang masih muda, adalah orang yang paling memikirkan masalah ini. Dia pun mengajukan solusi untuk mengatasinya dengan cara menggantikan seleksi alam itu dengan apa yang dia sebut "seleksi yang sengaja dirancang" (consciously designed selection) "melalui mana masyarakat akan mengontrol dan memperbaiki kualitas genetika mereka sendiri." Untuk itu dia menyodorkan istilah eugenics (1883). Tetapi belakangan ditetapkan bahwa istilah yang dipakai untuk kemerosotan genetika adalah dysgenics, sedangkan eugenics digunakan untuk memperbaiki kondisi tersebut. (Sumber: Richard Lynn--http://www.ulsterinstitute.org/preview/DYSGENICS_chapter1.pdf).

"Berlawanan dengan model evolusi--di mana penyakit dan kematian adalah bagian dari sarana utama penciptaan--hal-hal ini datang hanya setelah kejatuhan, sesudah masuknya dosa. Jadi, hanya dengan latar belakang riwayat Penciptaan maka kita dapat memahami dengan lebih baik ajaran Alkitab tentang kesehatan dan penyembuhan" [alinea pertama: dua kalimat terakhir].

Memelihara bait Tuhan. Prinsip alkitabiah menyatakan bahwa segala ciptaan, termasuk manusia, adalah milik Allah sebagai Pencipta. Artinya, manusia tidak dapat memperlakukan ataupun memanfaatkan tubuhnya sesuka hati seperti miliknya sendiri. Kembali lagi, dalam hal ini berlaku konsep penatalayanan, bahwa kita hanyalah penatalayan Allah atas tubuh kita--merawat tubuh kita sendiri untuk dan atas nama Sang Pencipta. Dalam perkataan lain, tubuh oleh mana kita hidup ini adalah "titipan" Allah untuk dipelihara, dirawat, dan digunakan bagi maksud-maksud Allah selaku Pemilik dari tubuh kita ini. Hal ini merupakan tanggungjawab pribadi.

Tulis rasul Paulus: "Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah -- dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!" (1Kor. 6: 19, 20). Sekali lagi, kedua ayat ini menegaskan kembali kepemilikan Allah atas diri kita karena dua hal, oleh penciptaan dan penebusan.

"Tubuh kita adalah wahana bagi otak kita, dan adalah melalui pikiran kita Roh Kudus berkomunikasi dengan kita. Jika kita ingin memiliki persekutuan dengan Allah, kita harus merawat tubuh dan pikiran kita. Kalau kita menyalahgunakan tubuh kita, maka kita merusak diri kita, baik secara fisik maupun rohani. Menurut ayat-ayat ini, seluruh pertanyaan tentang kesehatan itu sendiri, dan bagaimana kita merawat tubuh kita, yakni 'bait Allah,' merupakan masalah moral yang mengandung akibat-akibat yang abadi" [alinea kedua].

Apa yang kita pelajari tentang penatalayanan terhadap kesehatan kita?
1. Pada mulanya manusia telah diciptakan dalam keadaan sangat sempurna dan amat baik. Kejatuhan manusia ke dalam dosa telah mengubah segalanya, mendatangkan kemerosotan atas seluruh ciptaan dengan semua akibatnya secara turun-temurun.
2. Manusia boleh berusaha dan mengikhtiarkan segala cara untuk memperbaiki keadaan dirinya yang merosot akibat dosa, tetapi apapun itu tidak akan pernah bisa mengembalikan kondisi semula sebelum berdosa. Tetapi ada pengharapan, bila Yesus datang kedua kali semuanya akan dipulihkan.
3. Sementara menantikan saat itu, kita mengemban tanggungjawab pribadi untuk merawat tubuh kita ini agar selalu sehat. Perawatan tubuh yang benar bukanlah dengan motivasi penampilan diri, melainkan atas kesadaran bahwa tubuh kita ini adalah "bait Allah" di mana Roh Tuhan tinggal.

Kamis, 7 Maret
MERAWAT MILIK TUHAN (Prinsip-prinsip Penatalayanan)

Pemberian Allah yang baik dan sempurna. Adalah suatu kenyataan yang membesarkan hati bahwa meskipun manusia sudah berdosa dengan melawan perintah Allah, namun Tuhan tidak pernah berhenti mengaruniakan hal-hal yang baik kepada manusia. Mengapa? Karena Tuhan tetap memperlakukan kita sebagai para penatalayan-Nya. Dan rasul Yakobus menyaksikan, "Setiap pemberian yang baik dan hadiah yang sempurna datangnya dari surga, diturunkan oleh Allah, Pencipta segala terang di langit. Ialah Allah yang tidak berubah, dan tidak pula menyebabkan kegelapan apa pun" (Yak. 1:7, BIMK; huruf miring ditambahkan).

Perhatikan, sang rasul menekankan perihal sifat Allah "yang tidak berubah" sebagai jaminan bahwa setiap pemberian dan anugerah dari pada-Nya itu selalu "baik" dan "sempurna." Kata asli untuk baik di sini adalah ἀγαθός, agathos, sebuah kata-sifat yang juga mengandung arti berguna dan unggul. Sedangkan kata asli untuk sempurna pada ayat ini adalah τέλειος, teleios, kata-sifat yang artinya tidak ada kekurangan yang perlu ditambahkan. Jadi, semua pemberian Allah kepada manusia selalu memiliki keunggulan serta berguna, dan setiap anugerah ataupun hadiah dari pada-Nya itu selamanya tidak mengandung kekurangan apapun. Tidak ada hadiah, pemberian, atau anugerah apapun dari dunia ini yang sebanding dengan apa yang diberikan oleh Tuhan kepada kita.

Konsep penatalayanan alkitabiah. Sekarang, coba kita berintrospeksi dan menyelidiki hidup kita masing-masing: pemberian dan hadiah apa saja yang Allah sudah berikan kepada anda dan saya selama hidup? Seberapa besar manfaat dari pemberian itu dalam kehidupan kita, dan bagaimana kita melihat keunggulan dari pemberian itu dibandingkan dengan apa yang orang lain miliki atau tidak miliki? Talenta dan bakat? Kecerdasan dan kemampuan berpikir? Kesehatan dan kekuatan fisik? Pengaruh dan reputasi? Kekayaan dan kemakmuran? Waktu dan kesempatan? Pemeliharaan dan pimpinan Tuhan? Rumahtangga dan keluarga? Kita sering menyebut pemberian dan anugerah Tuhan itu dengan berkat, dan semakin anda merenungkannya kian bertambah pula daftar berkat-berkat Tuhan dalam hidup anda.

Nah, bagaimana anggapan anda dengan semua pemberian Tuhan tersebut, apakah itu dihadiahkan kepada anda untuk dinikmati sendiri dan demi kepentingan pribadi anda saja? Nasihat rasul Petrus adalah, "Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah" (1Ptr. 4:10; huruf miring ditambahkan). Kata asli yang diterjemahkan dengan pengurus dalam ayat ini adalah οἰκονόμος, oikonomos, sebuah kata-benda maskulin dalam bahasa Grika yang berarti pengelola (Bhs. Inggris: manager). "Pada akhirnya, karena Allah adalah Pencipta kita, dan oleh sebab segala sesuatu yang kita miliki adalah karunia dari Dia, maka kita diwajibkan di hadapan-Nya untuk menjadi penatalayan-penatalayan yang baik atas apapun yang telah dipercayakan kepada kita" [alinea pertama: kalimat terakhir].

Melalui perumpamaan tentang talenta (Mat. 25:14-30), Yesus menuntut kita untuk menjadi pengelola-pengelola yang baik dan bertanggungjawab atas milik Tuhan yang dikaruniakan kepada kita. Dalam perumpamaan ini ada beberapa pesan pekabaran yang kita dapatkan: (1) Karunia-karunia yang tidak sama itu, baik jumlah maupun jenisnya, mencerminkan keadilan Tuhan yang mengetahui kesanggupan seseorang; (2) Setiap orang diberi waktu dan kesempatan yang sama untuk menggunakan talentanya; (3) Pemberian atau karunia itu hanya titipan dari Tuhan, bukan milik kita; (4) Karunia atau talenta itu dipercayakan kepada kita supaya digunakan, bukan untuk disimpan; dan (5) Tuhan menuntut hasil keuntungan atau nilai tambah dari karunia-karunia itu, bukan sekadar kembali modal.

"Masing-masing mempunyai tempatnya dalam rencana kekekalan surga. Masing-masing harus bekerjasama dengan Kristus untuk keselamatan jiwa-jiwa. Tidak lebih pasti tempat yang disediakan bagi kita di istana surgawi daripada tempat khusus yang ditentukan di dunia ini di mana kita harus bekerja bagi Tuhan" [alinea terakhir: tiga kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang prinsip-prinsip alkitabiah tentang penatalayanan?
1. Allah tetap mengaruniakan kepada manusia berbagai pemberian sejak masa penciptaan hingga sekarang ini, dan semua itu pun tetap sempurna dan baik. Hal ini karena Tuhan tidak pernah berubah, baik kemarin, sekarang, dan selama-lamanya (Ibr. 13:8; Mal. 3:6).
2. Setiap orang yang dipercayakan dengan pemberian dari Allah dengan sendirinya menjadi pengelola (manajer) atas milik Tuhan yang dititipkan kepadanya. Pertanggungjawaban kita harus berupa hasil-hasil dari penggunaan karunia tersebut.
3. Pemberian dan karunia dari Tuhan diberikan dalam jumlah dan jenis yang berbeda-beda, sesuai dengan penilaian Tuhan akan kesanggupan kita masing-masing. Keadilan tidak berarti harus sama rata; keadilan berarti proporsional.

Jumat, 8 Maret
PENUTUP

Hidup untuk melayani. Sementara bagi banyak orang hidup itu adalah untuk dinikmati, bagi kita sebagai umat Tuhan hidup itu adalah untuk melayani. Pemahaman ini didasarkan pada keyakinan bahwa kita adalah milik Tuhan, oleh penciptaan maupun penebusan, dan keberadaan kita bukan semata-mata untuk diri kita sendiri melainkan untuk melayani Tuhan.

"Pengikut-pengikut Kristus telah ditebus untuk melayani. Tuhan kita mengajarkan bahwa tujuan hidup yang sebenarnya ialah pelayanan. Kristus sendiri adalah seorang pekerja, dan kepada semua pengikut-Nya Ia memberikan hukum tentang pelayanan--melayani Allah dan sesama manusia. Di sini Kristus menyajikan kepada dunia suatu pengertian tentang kehidupan yang lebih tinggi dari apa yang pernah mereka ketahui" [empat kalimat pertama].

Anda dan saya--maupun setiap orang yang menyadari dan merasakan tanggungjawab ini--dapat melayani Tuhan dengan apa yang telah dikaruniakan-Nya kepada kita masing-masing, yaitu berbagai potensi dan sumberdaya pribadi yang kita miliki. Allah itu maha adil, Dia tidak menuntut kita untuk melayani-Nya tanpa lebih dulu melengkapi kita dengan berbagai karunia dan pemberian yang bermanfaat dalam pelayanan dimaksud. Melayani adalah gaya hidup umat Kristen sejati, dalam pelayanan vertikal kepada Tuhan dan pelayanan horisontal terhadap sesama manusia.

Sesungguhnya, pelayanan itu bukanlah memberikan sesuatu dari sumberdaya kita, melainkan memanfaatkan sesuatu dari perbendaharaan Tuhan yang ada dalam diri kita. Sebab anda dan saya hanyalah penatalayan atas milik Tuhan, layaknya seorang manajer yang diangkat untuk mengelola "bisnis" Tuhan di dunia ini. Minimal kita bisa melayani Dia dengan merawat dan memelihara lingkungan hidup di mana kita berada. Sebagaimana semboyan PBB untuk pelestarian alam, Think globally, act locally, sembari peduli terhadap kondisi Bumi secara menyeluruh kita dapat berbuat sesuatu yang sederhana di lingkungan kita sendiri.

"Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku..." (1Tim. 1:12).